• 11 March 2026

Komoditas Pangan Berbagai Daerah Alami Inflasi Harga

uploads/news/2026/03/komoditas-pangan-berbagai-daerah-45277b37cfd9f55.jpeg

Jagad Tani - Sejumlah daerah alami peningkatan harga, ketika memasuki bulan Ramadan dan menjelang perayaan hari raya Idul Fitri 1447 Hijriyah. 

Berdasarkan data yang diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2026, secara Year on Year (YoY) dari februari 2025-februari 2026, di Indonesia telah terjadi inflasi sebesar 4,76%.

Baca juga: Libatkan 80.000 Gerai Ritel, BINA Lebaran Diluncurkan

Melalui Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 Senin (09/03), Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Tomsi Tohir dalam pemaparannya menyatakan bahwa telah terjadi lompatan inflasi, dibanding bulan Desember 2025 yakni sebesar 3,55% menjadi 4,76% di bulan februari.

"Pemerintah pusat mentarget inflasi kita secara nasional itu adalah 2,5%, plus minus 1% artinya 1,5 sampai dengan 3,5%. Sehingga ketika di bulan Desember 3,55% dan kemudian di bulan Januari 4,76% ini seolah terjadi inflasi yang di atas target," ungkapnya.

Dilanjutkan bahwa secara teoritis, angka di atas 3,5% meski dianggap sebagai inflasi ringan, akan tetapi dampaknya akan mulai terasa terutama di lingkup masyarakat yang kurang mampu.

"Katakanlah Desil 1 sampai dengan Desil 4 (pembagian kelompok masyarakat berdasarkan tingkat kesejahteraan) itu akan mulai terasa mereka yang hidupnya dari hari ke hari," sambungnya.

Adapun produk yang turut menyumbang inflasi yakni Makanan, Minuman dan Tembakau, sebesar 1,54% dengan komoditas penyumbang terbesarnya secara Month on Month (MoM) yaitu daging ayam ras (0,09%), cabai rawit (0,08%), ikan segar (0,05%), dan cabai merah (0,04%).

"Saya sudah sampaikan kepada Badan Pangan Nasional (Bapanas) di sini harus berpikir di daerah mana saja yang terjadi kenaikan daging ayam ras, apa penyebab kenaikannya, dan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas sudah menyampaikan bahwa ada pihak middle (pihak tengah) yang membeli dari peternak harga normal, tapi menjual ke publik itu menaikkan harga," terangnya.

Hal tersebut dinilai membuat harga daging ayam ras menjadi inflasi di beberapa daerah. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan (Kemendag) naik dari 131 daerah Kabupaten/Kota di 04 februari 2026, menjadi 210 daerah pada 01 maret 2026.

Sementara itu, jumlah daerah yang mengalami penurunan harga ada juga alami peningkatan sebanyak 156 Kabupaten/Kota, yang pada tanggal 04 februari 2026 berjumlah 53 Kabupaten/Kota.

Untuk Cabai Rawit, meskipun alami kenaikan karena dinilai bukan sebagai bahan makanan pokok, sehingga bisa disikapi dengan tidak terlalu sulit jika semua daerah melakukan gerakan tanam cabai.

"Saya sudah melihat di kota Makassar, saya sudah melihat di kota Surabaya yang melakukan gerakan-gerakan penanaman cabai sampai ke gang-gang dan mencukupi (kebutuhan) mereka," tuturnya.

Ditambahkan pula jika ada daerah-daerah yang tingkat produksi cabai melimpah seperti di Dataran Tinggi Gayo, Aceh, mulai dari Aceh Tengah, Gayo Luwes, dan Bener Meriah yang berlimpah jumlah produksinya, justru mempunyai harga yang tinggi.

"Ironinya di daerah dataran rendah mulai dari Banda Aceh sampai ke Aceh Timur, Lhoksumawe, Aceh Tamiang harganya sangat tinggi. Aceh inflasinya nomor satu saat ini," paparnya.

Lewat keterangannya, dijelaskan jika kenaikan harga tersebut terjadi karena masalah distribusi. Tito mencontohkan jika sebagian besar produksi dari Dataran Tinggi Gayo itu dibeli dan dijual ke Medan, setelah dari Medan barang masuk lagi ke Banda Aceh atau ke Aceh Tamiang.

"Akibatnya terjadi harga yang tinggi di sana," tukasnya.

Related News