Sumut Terima 27.000 Ton Stok Beras Lebaran
Jagad Tani - Tambahan pasokan beras sebanyak 27.000 ton diterima oleh Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara (Sumut) dari Jakarta menjelang perayaan Lebaran 2026.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Sumut, Budi Cahyanto, menjelaskan bahwa penambahan pasokan ini sangat penting untuk memastikan stok beras di Sumut tetap terjaga dan mencukupi. Sekaligus mengantisipasi lonjakan kebutuhan masyarakat selama periode hari raya.
Baca juga: Pemerintah Dorong Kemajuan Hilirisasi Pertanian
"Penambahan beras ini akan digunakan untuk mendukung program Bantuan Pangan dan penyediaan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Kebutuhan beras untuk program bantuan pangan saja diperkirakan mencapai sekitar 35.136 ton bagi 1,7 juta penerima manfaat di Sumut," terang Budi.
Dengan total penduduk Sumut yang mencapai sekitar 15 juta jiwa, pasokan beras harus tetap stabil, sehingga penambahan pasokan beras sebanyak 27.000 ton dari Jakarta merupakan bagian dari strategi Perum Bulog Sumut untuk memastikan ketersediaan pangan.
Adapun beras tersebut akan dialokasikan untuk dua program, yakni Bantuan Pangan, serta Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Program Bantuan Pangan dinilai sangat krusial mengingat adanya peningkatan jumlah penerima manfaat di Sumut.
"Jumlah penerima bantuan pangan di Sumatera Utara telah meningkat signifikan, dari sekitar 844.696 orang menjadi 1.700.576 orang. Peningkatan ini menyebabkan kebutuhan beras untuk program tersebut melonjak dari sekitar 16.500 ton menjadi 35.000 ton," tambahnya.
Sehingga pasokan tambahan dari Jakarta menjadi sangat vital untuk memenuhi kebutuhan yang melonjak. Hingga pertengahan Maret 2026, realisasi distribusi beras SPHP telah mencapai 14.970 ton, demi menjaga distribusi tetap berjalan lancar selama libur Lebaran, dan untuk mencegah gangguan pasokan.
Selain mengandalkan pasokan dari luar wilayah, penyerapan gabah kering panen (GKP) dari petani lokal, juga dilakukan dengan menyerap GKP sebanyak 96.000 ton, atau setara dengan 48.000 ton beras, sebagai bagian dari upaya memperkuat stok cadangan beras pemerintah (CBP).
"Penyerapan GKP dilakukan di berbagai daerah sentra produksi beras di Sumut. Di antaranya Kabupaten Langkat, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Tapanuli Utara, dan Kabupaten Padang Lawas," terangnya.
Potensi penyerapan GKP ke depan juga diidentifikasi di beberapa kabupaten lain, seperti Kabupaten Asahan, Kabupaten Batu Bara, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Humbang Hasundutan, dan Kota Padangsidimpuan untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah.
"Pembelian GKP dari petani dilakukan sesuai harga yang telah ditetapkan pemerintah, yaitu Rp6.500 per kilogram. Harga ini berlaku untuk gabah yang sudah dikemas dalam karung dan siap diangkut ke penggilingan terdekat," imbuhnya.
Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani dan memberikan kepastian harga bagi petani. Dengan stok CBP di Sumut yang saat ini mencapai 53.000 ton, Bulog memastikan bahwa pasokan beras mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun 2026.
"Stok ini akan terus meningkat seiring dengan kegiatan penyerapan gabah dan pengiriman beras dari pusat. Masyarakat dihimbau untuk berbelanja secara bijak dan tidak melakukan pembelian berlebihan" tukasnya.
