• 20 March 2026

Lebaran, Nilai Ekspor Perikanan Capai Rp16,7T

uploads/news/2026/03/menjelang-lebaran-nilai-ekspor-96956972a0563ac.jpg

Jagad Tani - Nilai ekspor perikanan Indonesia sejak awal tahun hingga menjelang Lebaran, berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sudah mencapai USD 983.147.052,32 atau sekitar Rp 16,7 triliun.

"Sampai dengan penghentian sementara angkutan barang pada 13 Maret lalu, sistem kami mencatat bahwa ekspor ikan ke berbagai negara telah mencapai 197.718,80 ton yang ditaksir nilainya mencapai Rp 16,7 triliun,” terang Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu KKP) Ishartini dalam siaran resmi dikutip, Jumat (20/03). 

Baca juga: 5 Oleh-Oleh Berbahan Ikan untuk Mudik Lebaran

Menurutnya jumlah tersebut tersebut didapat berdasarkan data penerbitan SMKHP (Sertifikat Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan) yang diterima oleh otoritas negara tujuan ekspor, yang menjadi syarat pemenuhan standar keamanan pangan di 140 negara mitra perdagangan produk perikanan Indonesia.  

Adapun negara dengan penyerapan produk perikanan Indonesia yang terbesar yaitu Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Vietnam, Thailand, Malaysia, Australia, Arab Saudi, Taiwan, dan Singapura.  

“Saat ini jenis produk perikanan yang diekspor telah mencapai 486 HS Code yang dapat berisi ribuan variasi type produk dengan sepuluh besar komoditas unggulan adalah udang vanname, tuna, cumi-cumi, rajungan, rumput laut, cakalang, kepiting, udang windu, ikan layur serta gurita,” jelasnya. 

Tidak hanya mendorong nilai ekspor, dilanjutkan Ishartini jika pihaknya juga mengupayakan peningkatakan penyerapan produk perikanan di dalam negeri, guna menjaga stabilitas nilai perdagangan perikanan khususnya di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah. 

Kondisi geopolitik di Timur Tengah, menurutnya berdampak pada aktivitas ekspor perikanan. Berdasarkan data, ekspor ikan saat ini mengalami penurunan volume sebesar 41,35% yang berdampak pada penurunan nilai ekspor sebesar 21,71% jika dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025. 

"Untuk demand produk perikanan Indonesia saat ini relatif masih stabil, indikasinya dari permohonan SMKHP yang terus kami layani. Hanya saja memang dari sisi volume memang agak terkendala karena transportasi dalam rantai pasok terkena imbas eskalasi misalnya perubahan rute shipment, biaya tambahan logistik, kontainer dan mother vessel yang terbatas yang semuanya itu juga berkontribusi dalam menaikkan harga produk,” tukasnya.

Related News