• 26 March 2026

Ampo, Kuliner Warisan Budaya Berbahan Tanah

uploads/news/2026/03/ampo-kuliner-warisan-budaya-547702d57fa654c.jpg

Jagad Tani - Di tengah pesatnya perkembangan kuliner modern, masyarakat di Tuban, Jawa Timur, masih menjaga sebuah tradisi yang terbilang unik lewat ampo, makanan tradisional yang terbuat dari tanah liat, dan diolah secara khusus untuk dikonsumsi oleh masyarakat.

Ampo bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas budaya, bahkan sejak tahun 2024 lalu, ampo resmi ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

 

Baca juga: Penguatan Ekoteologi UHN Sugriwa Lewat Tanam Pohon

Melansir dari tulisan yang berjudul Preserving Tradition of Eating ‘Ampo’, The Forgotten Ancestors’ Legacy di laman Unair.ac.id, Ampo awalnya dibuat dari endapan lumpur di tepi sungai Bengawan Solo yang berupa tanah aluvial berbasis lempung. Tanah tersebut dikeringkan terlebih dahulu sebelum dimakan.

Kemudian secara bertahap, masyarakat menemukan bahan ampo lain dari sedimen air lahan basah dengan bahan dasar tanah liat di Desa Bektiharjo. Perbedaannya yakni tanah liat yang telah dikumpulkan diolah dengan cara diasapi (dengan api).

Selain sebagai camilan, ampo juga digunakan dalam ritual adat dan dipercaya memiliki makna spiritual, menunjukkan keterkaitannya dengan kepercayaan leluhur setempat.

Dalam jurnal ilmiah, yang ditulis oleh Indah Safitri Viunita, dkk., dari Jurusan Sosiologi dan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang yang berjudul Analisis Pengetahuan Makanan Ampo Pada Kesehatan di Dusun Trowulan Desa Bektiharjo Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban kebiasaan mengonsumsi tanah seperti ampo dikenal sebagai geofagia

Penelitian tersebut, juga menuliskan bahwa ampo sampai saat ini masih dipercaya sebagai bancaan buat ngupati sapi. Tradisi setiap Jumat Pahing dalam satu tahun sekali, yang dilakukan agar sapi yang dipelihara tetap sehat dan tidak cepat meninggal. Selain itu zaman dahulu, ada tradisi ketika seseorang hamil dianjurkan mengonsumsi ampo agar janin di perut menjadi kuat. 

Proses pembuatannya dimulai dengan menyiapkan peralatan dan bahan yang diperlukan, meliputi ganden (pemukul), seseh (pengikis), obongan (kompor), hirik (alat pengasapan Ampo), glangsing (alas yang digunakan untuk membentuk Ampo ), sabit (untuk menggali), jarik (untuk mengambil tanah dari lokasi).

Bahan dasar ampo merupakan tanah sawah dengan kedalaman sekitar 20 cm menggunakan sabit. Kemudian tanah yang diperoleh diletakkan di dalam jarik . Tanah kemudian diletakkan di atas alas. Tanah harus dalam kondisi lembap. Jika tanah terlalu kering, harus disiram, dan jika terlalu basah harus dikeringkan.

Tanah yang lembap tersebut, kemudian dibentuk seperti kotak dan diratakan dengan dipukul-pukul. Lalu tanah dibiarkan selama sehari dan dibungkus dengan plastik agar kelembapannya tetap terjaga. Setelah dibiarkan selama sehari, tanah kemudian dikikis menggunakan seseh, hingga menghasilkan gulungan ampo.

Hasil pengikisan tanah tersebut kemudian dimasukkan ke dalam hirik untuk diasapi di atas obongan, dan pengasapan menggunakan api dari kayu bakar selama kurang lebih satu jam. Setelah itu, ampo sudah jadi dan siap untuk konsumsi maupun keperluan ritual.

Related News