Ampo, Kuliner Warisan Budaya Berbahan Tanah
Jagad Tani - Di tengah pesatnya perkembangan kuliner modern, masyarakat di Tuban, Jawa Timur, masih menjaga sebuah tradisi yang terbilang unik lewat ampo, makanan tradisional yang terbuat dari tanah liat, dan diolah secara khusus untuk dikonsumsi oleh masyarakat.
Ampo bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas budaya, bahkan sejak tahun 2024 lalu, ampo resmi ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Baca juga: Penguatan Ekoteologi UHN Sugriwa Lewat Tanam Pohon
Melansir dari tulisan yang berjudul Preserving Tradition of Eating ‘Ampo’, The Forgotten Ancestors’ Legacy di laman Unair.ac.id, Ampo awalnya dibuat dari endapan lumpur di tepi sungai Bengawan Solo yang berupa tanah aluvial berbasis lempung. Tanah tersebut dikeringkan terlebih dahulu sebelum dimakan.
Kemudian secara bertahap, masyarakat menemukan bahan ampo lain dari sedimen air lahan basah dengan bahan dasar tanah liat di Desa Bektiharjo. Perbedaannya yakni tanah liat yang telah dikumpulkan diolah dengan cara diasapi (dengan api).
Selain sebagai camilan, ampo juga digunakan dalam ritual adat dan dipercaya memiliki makna spiritual, menunjukkan keterkaitannya dengan kepercayaan leluhur setempat.
