Demi Turunkan Inflasi, Aceh Barat Siapkan Intervensi
Jagad Tani - Strategi intervensi pasar di Kabupaten Aceh Barat tengah disiapkan, guna menurunkan angka inflasi tahunan di Meulaboh yang mencapai 6,83%, khususnya terhadap komoditas harga beras yang turut menyumbang inflasi di daerah ini.
“Salah satu faktor inflasi tertinggi di Meulaboh (ibu kota Kabupaten Aceh Barat) disumbang dari tingginya harga beras,” ujar Tamizi selaku Bupati Aceh Barat.
Baca juga: Stok Beras Bulog di Tarakan Melimpah
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Aceh Barat pada Februari 2026, tercatat adanya inflasi year on year (yoy) Meulaboh sebesar 6,83% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,70.
Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga pada delapan indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 5,38%, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 3,14%, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 19,03%, kelompok kesehatan sebesar 3,06%.
Lalu menyusul kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,24%, kelompok pendidikan sebesar 3,45%, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 5,62%, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 19,80%.
Adapun kelompok yang mengalami penurunan harga yaitu: kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,40%, kelompok transportasi sebesar 0,25%, dan kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,36%.
BPS Aceh Barat juga mencatat inflasi month to month sebesar 0,48% dan tingkat inflasi (y-to-d) sebesar 0,03%.
"Pemerintah Kabupaten Aceh Barat mencatat adanya kenaikan harga jual sejumlah harga bahan pokok dan kebutuhan dapur menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah, dalam inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah pedagang di Pasar Bina Usaha Meulaboh, Rabu (18/03) pekan lalu," jelasnya.
Ada pun jenis kenaikan harga jual tersebut yaitu cabai merah mengalami kenaikan dari Rp30.000,- per kilogram menjadi Rp40.000,- per kilogram, beras premium (Yusima) mengalami kenaikan sekitar Rp900 per kilogram dari sebelumnya Rp15.400,- per kilogram naik menjadi Rp16.300,- per kilogram.
Kemudian komoditi ayam pedaging (ayam potong) juga mengalami kenaikan harga sebesar Rp2.500 per kilogram dari sebelumnya Rp30.000,- per kilogram naik menjadi Rp32.500,- per kilogram,
Harga telur juga mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp30.000,- per kiloram naik menjadi Rp32.500,- ribu per kilogram, gula pasir juga mengalami kenaikan dari harga jual sebelumnya Rp15.700 per kilogram naik menjadi Rp18.500 ribu per kilogram.
Harga jual bawang merah dan bawang putih juga tercatat mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp30.000 per kilogram naik menjadi Rp35.000,- per kilogram.
"Naiknya sejumlah komoditi bahan pokok dan bumbu dapur tersebut dipicu akibat tingginya permintaan masyarakat menjelang hari tradisi meugang menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah," tukasnya.
