• 26 March 2026

Pasca Lebaran Harga Pangan Terus Dipantau Satgas

uploads/news/2026/03/pasca-lebaran-harga-pangan-938699c4720a33c.jpeg

Jagad Tani - Setelah momentum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah selesai, tim Satuan Tugas (Satgas) Sapu Bersih Pelanggaran Harga dan Mutu Pangan terus meninjau dan memantau fluktuasi harga di sejumlah pasar agar harga tetap terkendali pasca lebaran.

"Pemantauan harga pangan masih intensif dilakukan pasca Lebaran agar harga pangan tetap wajar dan pasokan aman," ujar Ketua Pelaksana Satgas Saber Pelanggaran Pangan I Gusti Ketut Astawa pernyataan resminya, dikutip Kamis (26/03).

Baca juga: Demi Turunkan Inflasi, Aceh Barat Siapkan Intervensi

Menurutnya, pada H+Lebaran pemantauan harga masih terus dilakukan diberbagai wilayah di Indonesia, salah satunya dilakukan di Kabupaten Bekasi dan Kota Jakarta Timur, dikarenakan setelah Lebaran kondisi belum sepenuhnya normal. 

Dilanjutkan pula jika sebagian pedagang masih belum berjualan, sehingga beberapa komoditas seperti daging sapi, sayur mayur, dan beras belum tersedia secara merata.

"Kondisi itu cukup berpengaruh pada harga komoditas segar yang cenderung lebih tinggi, terutama yang sangat bergantung pada kelancaran pasokan harian," terangnya.

Di pasar tradisional Ciracas Jakarta Timur, harga cabai masih tercatat berada di atas harga acuan pemerintah. Harga dipengaruhi pola musiman di tingkat produksi, khususnya karena periode libur petik saat Lebaran yang membuat pasokan dari petani sedikit terhenti.

"Cuman biasanya kalau menjelang Lebaran, dia libur petik. Nah kalau libur petik, biasanya pasokan sedikit terkoreksi, itu agak naik. Tapi di lapangan ini kan masih banyak barang-barang sehingga pasokan secara prinsip, walaupun mungkin di Lebaran banyak yang libur, tapi pasokan di pasar-pasar, stok di pasar-pasar relatif sudah bagus," tambahnya.

Ketut mengatakan jika perkembangan di daerah produsen mulai menunjukkan tren positif. Harga cabai di Kota Surakarta per 24 Maret terpantau mulai menurun, dengan cabai merah keriting di kisaran Rp35.000 per kilogram (kg), cabai rawit merah Rp55.000–Rp 60.000 per kg, dan cabai merah besar sekitar Rp40.000 per kg.

Kondisi tersebut menunjukkan pasokan dari sentra produksi di Jawa Tengah mulai kembali normal, sehingga diharapkan dapat segera menekan harga di wilayah konsumsi seperti Jakarta dalam beberapa waktu ke depan.

Lebih lanjut, ia mengingatkan harga di pasar tradisional bersifat dinamis karena menggunakan sistem tawar-menawar, sehingga masyarakat diharapkan aktif melakukan tawar-menawar saat bertransaksi guna mendapatkan harga yang baik.

“Sekali lagi tolong diingat, pasar tradisional itu adalah pasar tawar-menawar. Jadi kalau kita beli belanja sekali tanya langsung harga, itu di ritel modern. Kalau di pasar harus tawar-menawar,” tambah Ketut.

Sementara itu di ritel modern, harga dan stok komoditas pangan relatif aman. Beras premium dijual Rp14.900 per kg, daging sapi Rp128.900 per kg, telur ayam ras Rp29.700 per kg, serta gula konsumsi Rp17.500 per kg.

Untuk komoditas cabai, harga berada di kisaran Rp 37.500–41.000 per kg. Ketersediaan ini dapat menjadi alternatif bagi masyarakat di tengah belum pulihnya aktivitas penuh di pasar tradisional.

Ketut menyebutkan berdasarkan pemantauan di Pasar Tambun Kabupaten Bekasi, harga minyak goreng Minyakita sesuai harga eceran tertinggi (HET) Rp15.700 per liter, kemudian telur ayam ras dijual Rp30.000 per kg, sama dengan harga acuan penjualan (HAP).

Lalu, di ritel modern, harga beras SPHP dijual Rp62.500 per 5kg, daging ayam ras Rp34.900 per kg, dan gula konsumsi Rp17.500 per kg, serta bawang putih Rp36.500 per kg.

"Pentingnya menjaga keseimbangan antara produksi dan kelancaran distribusi sebagai kunci stabilitas harga di lapangan," tukasnya.

Related News