Perjalanan Pagi Farm: Dari Lele Bioflok ke Hidroponik
Jagad Tani - Usaha pertanian hidroponik Pagi Farm yang kini dikenal sebagai salah satu produsen sayuran segar, ternyata tidak langsung berdiri dengan konsep seperti sekarang. Pemilik Pagi Farm, Firdaus, mengungkapkan bahwa perjalanan bisnisnya sudah dimulai sejak 2018 dengan berbagai eksperimen usaha.
“Secara bisnis, kita mulai dari 2018. Tapi awalnya bukan langsung hidroponik. Kita coba beberapa usaha, salah satunya lele bioflok,” ujar Firdaus kepada Jagad Tani saat ditemui di Bogor.
Baca juga: Pasca Lebaran Harga Pangan Terus Dipantau Satgas
Menurutnya, usaha lele bioflok sempat dijalankan cukup serius. Namun seiring waktu, ia menilai model bisnis tersebut kurang menguntungkan karena biaya operasional tidak sebanding dengan harga jual di pasar.
“Secara teknologi kita pakai bioflok, tapi harga jual lele tetap sama dengan lele konvensional. Dari situ kita lihat secara bisnis, visibilitinya kayaknya kurang masuk," jelasnya.
"Tampak Firdaus sedang memanen Pakcoy (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"
Beralih ke Hidroponik
Peralihan ke hidroponik bermula dari sebuah kesempatan sederhana. Firdaus mendapatkan satu set sistem hidroponik dari rekannya dan mencoba mengembangkannya di lingkungan pondok pesantren yang ia kelola.
Dari situ, hidroponik tidak hanya menjadi usaha, tetapi juga sarana edukasi keterampilan bagi para santri.
“Awalnya kita ajarkan ke anak-anak pondok sebagai skill. Lama-lama berkembang, kita mulai bikin sistem lebih besar dan bahkan membuka pelatihan,” katanya.
Sebelum pandemi COVID-19, pelatihan hidroponik yang diadakan Pagi Farm cukup diminati masyarakat umum, mulai dari skala hobi hingga bisnis.
Dampak Pandemi dan Kebangkitan Usaha
Pandemi COVID-19 sempat menghentikan aktivitas bisnis dan pelatihan selama hampir dua tahun. Namun pada akhir 2022 hingga 2023, Pagi Farm mulai bangkit dan fokus pada produksi serta penjualan sayuran.
Saat ini, Pagi Farm juga menjalin kemitraan dengan petani hidroponik lain serta melayani pasar Jabodetabek melalui pengepul.
“Kita kirim ke pengepul, bukan langsung ke retail. Karena memang kita nggak kuat kalau untuk ke retail langsung kan ya. Jadi kita lewat ke Pengepul, nanti Pengepul yang ke retail. Sekarang fokus ke dua customer utama yang konsisten,” jelas Firdaus.
Dalam satu minggu, produksi sayuran bisa mencapai 450 hingga 500 kilogram, dengan target bulanan sekitar 1,6 hingga 2 ton.
"Proses pengemasan sayur Pakcoy di Pagi Farm sebelum pengiriman (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"
Spesialisasi Pakcoy
Seiring perkembangan usaha, Pagi Farm memutuskan untuk fokus pada satu komoditas utama, yaitu pakcoy. Sebelumnya, mereka menanam berbagai jenis sayuran seperti kangkung, bayam, hingga selada.
“Kalau terlalu banyak jenis, kita tidak bisa supply dalam jumlah besar. Akhirnya kita fokus ke pakcoy supaya produksi lebih optimal,” ujarnya.
Tantangan: Cuaca hingga Sumber Daya
Firdaus menyebutkan bahwa tantangan utama dalam hidroponik adalah cuaca, sumber daya manusia, dan sistem.
“Cuaca itu paling berpengaruh, apalagi saat musim hujan panjang. Bisa memicu hama seperti kutu dan lumut,” katanya.
Ia menambahkan bahwa perawatan yang tidak konsisten dapat memperparah kondisi tanaman, terutama saat kelembapan tinggi.
Edukasi dan Pelatihan
Selain produksi, Pagi Farm juga mengembangkan program pelatihan dan kunjungan, baik untuk pelajar maupun kalangan pensiunan. Bahkan, mereka bekerja sama dengan perusahaan untuk memberikan pelatihan bagi karyawan yang akan memasuki masa pensiun.
“Kita ajarkan dari mulai tanam sampai jualan selama tiga hari,” jelas Firdaus.
Pagi Farm juga membantu pembangunan greenhouse bagi peserta yang ingin serius terjun ke bisnis hidroponik. Hingga kini, sudah ada sekitar 10 hingga 12 kebun yang dibangun melalui program tersebut.
Firdaus sendiri memiliki latar belakang sebagai seorang mechanical engineer di industri minyak dan gas. Ia mulai merintis usaha sebagai persiapan masa pensiun sekaligus bentuk kepedulian terhadap pendidikan keterampilan.
“Saya melihat banyak orang baru mulai bisnis saat pensiun dan akhirnya kesulitan. Saya ingin mempersiapkan dari sekarang,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga ingin membekali para santri dengan keterampilan praktis agar memiliki peluang kerja setelah lulus.
"Salah seorang pegawai Pagi Farm sedang melakukan pengecekan kondisi sayuran (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"
Harapan ke Depan
Ke depan, Firdaus berharap Pagi Farm dapat memperluas jaringan kemitraan serta meningkatkan posisi tawar petani hidroponik di pasar.
Ia menyoroti fluktuasi harga sayuran yang cenderung menurun akibat persaingan tidak sehat antarpetani.
“Saya ingin petani hidroponik punya kekuatan untuk bargaining harga, tidak terus diadu-adu,” tegasnya.
Selain itu, ia juga berencana mengembangkan program pelatihan yang lebih luas, termasuk kolaborasi dengan berbagai jenis usaha untuk memberikan alternatif bisnis bagi masyarakat, khususnya pensiunan.
“Harapannya, Pagi Farm bisa berkembang, punya lebih banyak kebun, dan jadi pusat pelatihan yang berkelanjutan,” tutupnya.
