• 27 March 2026

Lebaran Usai, Harga Pasar Mulai Normal

uploads/news/2026/03/aktivitas-perdagangan-mulai-normal-6196989a0a1676a.jpeg

Jagad Tani - Aktivitas perdagangan pangan mulai normal pasca perayaan Idulfitri, meskipun sebagian pedagang masih ada yang belum membuka lapaknya.

Melalui pantauan Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada Kamis (26/03) di Pasar Rawamangun, Jakarta dan Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, harga sejumlah komoditas, khususnya produk unggas dan hortikultura, terpantau dalam kondisi cukup baik.

Baca juga: Pasca Lebaran Harga Pangan Terus Dipantau Satgas

Di Pasar Ciputat, harga daging ayam ras tercatat berada di kisaran Rp 35.000 per kilogram (kg), masih di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 40.000 per kg.

Komoditas hortikultura seperti cabai rawit merah yang sebelumnya melonjak selama Ramadan, kini turun menjadi sekitar Rp 60.000 per kg, mendekati HAP konsumen sebesar Rp 57.000 per kg. Sementara itu, bawang merah tercatat di kisaran Rp 40.000 per kg dan cabai merah keriting berada di sekitar Rp 40.000 per kg.

Sebelumnya, pada pekan kedua bulan Maret menjelang Hari Raya Idulfitri, harga pangan sempat mengalami fluktuasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) pada sejumlah komoditas di berbagai wilayah.

Untuk komoditas daging ayam tercatat mengalami kenaikan IPH di 192 kabupaten/kota, dengan 123 di antaranya masih berada dalam rentang HAP Rp 40.000 per kg.

Sementara itu, kenaikan IPH cabai rawit merah terjadi di 198 kabupaten/kota, namun 48 kabupaten/kota masih mencatat harga sesuai batas HAP Rp 57.000 per kg.

Adapun harga bawang merah mengalami kenaikan IPH di 143 kabupaten/kota, dengan 96 kabupaten/kota tetap berada dalam koridor HAP Rp 41.500 per kg.

"Kita ingin semua tersenyum. Petani tersenyum karena harga hasil panennya baik, pedagang tersenyum karena barang tersedia dan bisa dijual, dan masyarakat juga tersenyum karena harga pangan terjangkau," terang Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman.

Dari sisi makro, stabilitas harga pangan juga tercermin dalam indikator inflasi komponen harga bergejolak (volatile food) atau inflasi pangan. Pada Februari 2026, inflasi pangan tercatat sebesar 2,50% secara bulanan dan 4,64% secara tahunan.

Capaian tersebut masih berada dalam target pemerintah pada rentang inflasi volatile food sebesar 3 hingga 5%, dan menunjukkan bahwa stabilitas harga pangan relatif terjaga, sekaligus cerminan daya beli masyarakat yang tetap kuat di tengah dinamika pasokan dan distribusi.

"Kalau produksi surplus dan distribusi lancar, maka harga akan stabil. Itu yang kita jaga terus, dari hulu sampai hilir. Harga pangan tidak boleh terlalu tinggi karena memberatkan masyarakat, tetapi juga tidak boleh terlalu rendah karena merugikan petani," tukas Amran yang juga Menteri Pertanian.

Related News