• 27 March 2026

Hadapi Kemarau, Petani Bisa Gunakan Metode Ini

uploads/news/2026/03/hadapi-kemarau-petani-bisa-9632807547c0174.jpeg

Jagad Tani - Upaya efisiensi air menjadi kunci dalam menghadapi musim kemarau yang kian tidak menentu. Ditambah lagi Indonesia diprediksi akan menghadapi potensi El Nino, yang dapat memicu anomali iklim.

Melalui metode Alternate Wetting and Drying (AWD), Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong penerapan pengelolaan air sawah untuk lebih hemat, karena sistem ini mampu mengurangi penggunaan air irigasi hingga 20% tanpa menurunkan produktivitas padi.

Baca juga: Pasca Lebaran Harga Pangan Terus Dipantau Satgas

Teknologi ini menjadi bagian dari adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, dengan fokus pada efisiensi penggunaan sumber daya air yang semakin terbatas. Melalui AWD, petani dapat mengatur pemberian air secara terukur sehingga tanaman tetap tumbuh optimal meskipun dalam kondisi keterbatasan air.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan, Fadjry Djufry, menyampaikan bahwa AWD merupakan inovasi yang dirancang untuk menjawab tantangan nyata di lapangan, khususnya saat musim kemarau.

Teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD) merupakan solusi adaptif dalam menghadapi keterbatasan air. Dengan pengaturan air yang terukur, petani dapat menjaga kondisi tanaman tetap optimal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggenangan terus-menerus, sehingga lebih siap menghadapi risiko kekeringan,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Kamis (26/03).

Menurut, Fadjry AWD merupakan teknologi yang dikembangkan oleh International Rice Research Institute pada 2009, dan mulai diadaptasi di Indonesia sejak tahun 2013.

“Berdasarkan hasil pengujian selama enam musim tanam, melalui teknik AWD ini, kelangkaan air di lahan sawah dapat ditekan, bahkan dihindari. Teknologi ini dapat menghemat penggunaan air irigasi 17-20%,” terangnya.

Selain itu, penerapan AWD mampu menekan penggunaan air irigasi, metode ini juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan melalui perbaikan kondisi tanah dan penurunan emisi gas rumah kaca dari lahan sawah.

Sementara itu, menurut Ali Pramono, analis dari BRMP Lingkungan Pertanian, penerapan AWD dilakukan dengan mengatur siklus pengairan berdasarkan kondisi kelembapan tanah, sehingga sawah tidak selalu dalam kondisi tergenang. Setelah fase penggenangan awal, air dibiarkan surut hingga batas tertentu sebelum diairi kembali.

“Pengamatan kondisi air dilakukan menggunakan alat sederhana berupa pipa paralon berdiameter 10-15 cm dengan panjang 30-100 cm yang dilubangi di semua sisinya dan dibungkus kain kassa kemudian dibenamkan hingga tersisa 10 cm-20 cm di atas permukaan tanah. Pipa ini memiliki prinsip kerja seperti piezometer (alat ukur tekanan cairan-red) sederhana,” terangnya.

Pipa tersebut, ditempatkan di area yang mudah diakses, seperti dekat pematang, agar memudahkan pemantauan kedalaman air yang mewakili kondisi rata-rata lahan.

“Pengairan kembali umumnya dilakukan ketika muka air di dalam pipa telah turun hingga kisaran 10–15 cm di bawah permukaan tanah, kemudian air diberikan kembali dalam jumlah terbatas hingga tinggi muka air 3-5 cm untuk menjaga kelembapan tanah,” lanjut Ali.

Siklus ini dilakukan secara berulang, dengan penyesuaian terhadap kondisi lahan dan cuaca, serta tetap menjaga ketersediaan air pada fase kritis seperti pemupukan, penyiangan, hingga fase bunting-berbunga.

Sitambahkan jika penerapan AWD tidak hanya meningkatkan efisiensi penggunaan air, tetapi juga memperbaiki kondisi perakaran dan struktur tanah sehingga tanaman lebih tahan terhadap cekaman kekeringan dan berpotensi meningkatkan hasil.

“AWD tidak sekadar menjadi teknik pengairan, tetapi juga bagian dari strategi mitigasi yang memperkuat ketahanan sistem produksi padi,” tutupnya.

 

Related News