Ketersediaan Jumlah Stok Pangan Terus Diperkuat
Jagad Tani - Ketersediaan pangan nasional berada dalam kondisi kuat dan mencukupi, melalui peningkatan produksi dalam negeri dengan proyeksi surplus pada sejumlah komoditas, guna menjaga stabilitas pasokan ke depan.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan pangan nasional, mengingat stok dan produksi saat ini berada dalam kondisi yang sangat memadai.
Baca juga: Lebaran Usai, Harga Pasar Mulai Normal
“Kalau kita bicara ketersediaan, kita tidak perlu khawatir. Berdasarkan proyeksi neraca pangan kita, posisi stok sangat kuat. Tahun lalu carry over stock kita sekitar 12,4 juta ton, kemudian saat ini cadangan pangan di Bulog sekitar 4,22 juta ton,” ucap Ketut, Jumat (27/03).
Berdasarkan data per 26 Maret 2026, stok beras yang dikelola oleh Perum Bulog mencapai sekitar 4,22 juta ton. Selain beras, sejumlah komoditas jagung ada sekitar 155 ribu ton dan minyak goreng sekitar 117 ribu kiloliter.
Di sisi produksi, tren pasokan pangan nasional terus menunjukkan penguatan seiring berlangsungnya musim tanam dan panen. Produksi telah berjalan sejak awal tahun dan diperkirakan mencapai puncaknya pada periode panen raya.
“Produksi di bulan Januari sudah ada, di bulan Februari sudah ada, Maret sedang berproduksi, bahkan mungkin April nanti bisa panen raya. Nah, ini sebenarnya, di bulan April ini diprediksi sampai 5 juta ton. Ini juga sangat tinggi produksi yang akan dihasilkan,” sambungnya.
Data Proyeksi Neraca Pangan Nasional tahun 2026 untuk komoditas beras, total ketersediaan diperkirakan mencapai lebih dari 47 juta ton yang merupakan akumulasi stok dan produksi, dengan kebutuhan sekitar 31 juta ton sepanjang tahun, sehingga menghasilkan surplus.
Adapun Jagung diproyeksikan memiliki stok akhir di 2026 sekitar 4,99 juta ton. Pada komoditas protein hewani, daging ayam ras mencatat stok akhir sekitar 1,7 juta ton, telur ayam ras sekitar 949 ribu ton. Untuk gula konsumsi diperkirakan memiliki stok akhir sekitar 1,33 juta ton.
Ditambahkan oleh Ketut bahwa sebagian besar komoditas pangan strategis nasional memang ditopang oleh produksi domestik, sehingga memperkuat ketahanan pangan secara berkelanjutan.
“Komoditas seperti cabai, bawang merah, telur, ayam, itu produksi dalam negeri semua. Jadi kita sudah sangat-sangat sufficient, sangat kuat produksinya,” paparnya.
Meski demikian, pemerintah tetap mengedepankan prinsip kewaspadaan dalam menjaga keberlanjutan produksi, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang memasuki musim kemarau.
“Kita optimis ketahanan pangan terjaga, karena semua langkah antisipasi sudah disiapkan, termasuk percepatan tanam dan bantuan sarana produksi untuk menjaga produksi tetap optimal,” tukasnya.
Secara terpisah, Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan produksi menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
“Produksi kita meningkat, panen raya terjadi di banyak daerah, Februari, Maret, dan April banyak panen di berbagai daerah, sehingga stok beras nasional sangat kuat. Produksi kita sudah berada di atas kebutuhan konsumsi nasional,” terangnya.
Menurutnya, keseimbangan antara produksi dan distribusi menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga pangan di masyarakat.
“Kalau produksi surplus dan distribusi lancar, maka harga akan stabil. Itu yang kita jaga terus, dari hulu sampai hilir,” tutur Amran.

