Inovasi Budidaya Ikan Air Tawar, Kunci Produktifitas
Jagad Tani - Percepatan inovasi sekaligus hilirisasi teknologi budidaya ikan air tawar berbasis sistem presisi guna meningkatkan produktivitas menjadi kunci dalam pemenuhan kebutuhan protein ikan di Indonesia.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong percepatan tersebut, karena sektor perikanan budidaya selama ini memegang peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus menjadi penggerak ekonomi di berbagai daerah.
Baca juga: Pembinaan 280 Pengolah Ikan Asap di Jayapura
Tingginya konsumsi ikan di masyarakat serta meningkatnya permintaan pasar domestik dan global menuntut sistem produksi yang semakin efisien dan adaptif terhadap tantangan lingkungan.
Menurut Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, konsumsi ikan nasional menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dalam dua dekade terakhir.
“Jika melihat data sejak 2003 hingga saat ini, konsumsi ikan masyarakat Indonesia telah mencapai sekitar 57 kilogram per kapita per tahun. Angka ini menjadi indikator positif dalam upaya memperkuat ketahanan pangan dan perbaikan gizi masyarakat,” ujarnya dalam keterangan tertulis dikutip Rabu (01/04).
Selain itu, sektor perikanan dinilai memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja ekspor nasional, bahkan nilai ekspor perikanan Indonesia pada 2025 tercatat mencapai sekitar 6,7 miliar USD atau meningkat sekitar 5,2% dibandingkan tahun sebelumnya.
"Peningkatan tersebut menunjukkan tingginya permintaan global terhadap komoditas perikanan, termasuk hasil budidaya seperti ikan konsumsi, udang, dan rumput laut," terangnya.
Meski demikian, peningkatan permintaan tersebut dinilai harus diimbangi dengan sistem produksi yang lebih efisien. Menurutnya, budidaya ikan air tawar masih menghadapi berbagai tantangan struktural, mulai dari keterbatasan lahan, fluktuasi kualitas air, efisiensi penggunaan pakan, hingga ancaman penyakit yang dapat menurunkan produktivitas.
“Pemanfaatan teknologi budidaya presisi dapat menjadi solusi untuk memodernisasi sistem budidaya agar lebih cerdas, efisien, dan adaptif terhadap perubahan lingkungan,” tutur Puji.
Teknologi seperti sensor kualitas air, Internet of Things (IoT), serta sistem pemantauan berbasis data dinilai mampu membantu pembudidaya memantau kondisi kolam secara real-time dan mengambil keputusan yang lebih akurat dalam pengelolaan produksi.
Pendekatan ini juga dinilai berpotensi memberdayakan pembudidaya skala kecil dan menengah melalui peningkatan efisiensi operasional. Sehingga kolaborasi antar pihak menjadi penting dalam mengembangkan inovasi di sektor perikanan.
“BRIN berharap dapat mempertemukan para peneliti, praktisi, pelaku usaha, dan pemangku kebijakan untuk memperkuat kolaborasi sekaligus mencari solusi bersama bagi pengembangan sektor perikanan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, menurut Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Budidaya Air Tawar BRIN, Fauzan Ali, proses hilirisasi teknologi hasil riset yang telah dikembangkan oleh para peneliti BRIN, merupakan tahapan penting agar inovasi riset tidak berhenti pada publikasi akademik, tetapi dapat dimanfaatkan secara luas oleh pelaku usaha.
Bahkan BRIN telah memperoleh paten melalui dua inovasi, yakni teknologi kubah kolam ikan serta sistem Recirculating Aquaculture System (RAS) untuk pendederan ikan nila.
“Melalui lisensi paten, teknologi hasil penelitian dapat diadopsi oleh mitra industri sehingga memberikan manfaat nyata bagi pengembangan usaha budidaya perikanan,” jelasnya.
Teknologi kubah kolam ikan dirancang untuk mengatasi perbedaan suhu air yang signifikan antara siang dan malam hari. Fluktuasi suhu tersebut kerap menyebabkan stres pada ikan yang pada akhirnya berdampak pada penurunan produktivitas budidaya.
Sedangkan sistem RAS memungkinkan air budidaya digunakan kembali melalui proses filtrasi berlapis sehingga kualitas air tetap terjaga. Sehingga tidak hanya meningkatkan efisiensi penggunaan air, tapi juga menciptakan lingkungan budidaya yang lebih stabil bagi pertumbuhan ikan.

