• 6 April 2026

Sayur Mini: Inovasi Pertanian Modern Bernilai Tinggi

uploads/news/2026/04/sayur-mini-inovasi-pertanian-295363b239030a3.jpeg

Jagad Tani -  Di tengah meningkatnya tren hidup sehat, usaha mikro berbasis pertanian modern di kawasan Mampang Prapatan, bernama Sayur Mini Microgreen, yang dulunya dikenal sebagai Lestari Farm, kini menjelma menjadi brand sayuran premium dengan konsep sehat, praktis, dan bernilai tinggi.

Transformasi ini menurut Abdurrahman Faiz, Sales and Marketing Manager yang mulai memegang kendali bisnis pada tahun 2024, menilai jika Rebranding menjadi titik balik dari Lestari Farm ke Sayur Mini.

Baca juga: Perjalanan Pagi Farm: Dari Lele Bioflok ke Hidroponik

Sudah ada sejak tahun 2018, Lestari Farm awalnya mengandalkan metode penjualan konvensional, yakni langsung ke hotel dan restoran dengan sistem pembayaran tempo. Namun, pola tersebut membuat bisnis berjalan tidak stabil.

“Kadang profit, kadang rugi. Cashflow juga nggak jalan karena sistem pembayaran 30 hari,” ungkap Faiz kepada Jagad Tani.

Permasalahan lain muncul saat brand “Lestari Farm” dicari di Google, yang muncul justru peternakan sapi. Dari situ, Faiz menyadari pentingnya identitas brand.

Akhirnya, dilakukan rebranding menjadi Sayur Mini by Lestari Farm, lengkap dengan perubahan kemasan, masuk ke media sosial, ekspansi ke e-commerce, serta penjualan langsung via digital (DM & WhatsApp). Langkah ini menjadi titik balik menuju sistem bisnis yang lebih modern dan scalable.

"Tampak Sayur Mini yang masih berusia tanam 4 hari (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"
 

Berawal dari Hobi, Tumbuh Jadi Peluang Bisnis
Menariknya, Sayur Mini lahir dari hobi sang owner yang gemar berkebun di rumah. Setiap pagi, ia merawat tanaman, terutama jenis sayuran superfood yang tidak umum di pasaran.

Benih-benih unik bahkan dibawa langsung dari luar negeri, seperti dari Jepang dan Australia. Setelah berhasil ditanam, hasilnya kemudian dikembangkan dan dijual.

“Karena unik, ternyata ada pasarnya sendiri,” jelas Faiz.

Produk utama Sayur Mini adalah microgreen, yaitu tanaman muda yang dipanen pada usia sekitar 7-14 hari. Beberapa varian unggulannya seperti Pea shoot (pisut), Brokoli, Mustard, Choy sum dan Red radish.

"Andri sedang mengecek kondisi tanamannya (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"
 

Microgreen dikenal memiliki kandungan nutrisi tinggi karena diambil dari daun pertama hasil perkecambahan benih. Tanaman ini juga tidak menggunakan nutrisi tambahan, cukup disiram air, dan dikonsumsi mentah agar nutrisinya tetap terjaga.

“Biasanya dipakai untuk salad, sandwich, atau garnish makanan,” jelas tim digital marketing, Virantika Dharma.

Menurut wanita yang akrab di sapa Tika ini, salah satu strategi digital lewat edukasi menjadi kunci promosi, bahkan Sayur Mini kini aktif di Instagram dan TikTok dengan konten edukatif, mulai dari cara penggunaan microgreen, tips penyimpanan, hingga inspirasi menu sehat.

"Untuk saat ini lebih kita giatkan juga untuk health enthusiast, karena sekarang kan lagi banyak yang nyari juga, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat," sambung Tika.

Selain menyasar pasar retail, Sayur Mini kini juga melayani hotel dan restoran. Produk mereka banyak digunakan sebagai Garnish hidangan, pelengkap sandwich, hingga untuk topping makanan premium seperti pasta.

Dilanjutkan bahwa dalam sehari, permintaan dari satu hotel dan resto bisa mencapai 20 pack, dengan total keseluruhan bisa mencapai sekitar 50 pack, tergantung kebutuhan masing-masing pelanggan.

"Kemasan Sayur Mini (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"


Tantangan Distribusi dan Daya Tahan
Meski memiliki pasar luas, Sayur Mini juga menghadapi tantangan besar dalam distribusi. Pasalnya microgreen hanya bertahan maksimal H+1 tanpa pengawet, sehingga pengiriman luar kota menjadi kendala.

Sebelumnya, mereka sempat menjangkau kota seperti Semarang dan Malang, namun dihentikan karena kualitas produk tidak terjaga saat pengiriman. Kini, fokus distribusi dipusatkan di Jabodetabek.

Sementara itu, menurut Andrian Prayoga selaku Supervisor menjelaskan jika, proses produksi microgreen tergolong sederhana, karena benih cukup ditabur di media tanam, lalu disiram rutin pagi dan sore, hingga nantinya bisa dipanen dalam waktu 7-14 hari.

"Namun, kontrol kelembapan menjadi kunci utama untuk mencegah jamur yang dapat menyebabkan gagal panen. Saat ini, kapasitas produksi mencapai sekitar 1,2 kg per hari," terang Andri.

Andri menambahkan ada dua jenis pengemasan yakni kemasan 50 gram yang biasanya untuk dikirim ke restoran atau hotel, serta kemasan 40 gram.

"Untuk kemasan 40 gram itu biasanya kita simpan di outlet. Kita ada outlet konsinyasi di Grand Luncky, SCBD. Nah kalau untuk harganya bisa mencapai Rp 35 ribu per pack tergantung ukuran pengemasan dan produknya," tutur Andri.

"Salah seorang karyawan yang bernama Arya, sedang menyiapkan pengepakan kemasan (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"
 

Ke depan, Sayur Mini ingin menargetkan peningkatan kapasitas produksi, ekspansi pasar ke luar kota, dan pengembangan sistem digital seperti quick commerce.

“Kita ingin ke arah seperti platform modern, tapi memang masih dalam tahap pengembangan,” pungkas Faiz.

 

Related News