Biointensif Jadi Alternatif Petani Atasi Krisis Energi
Jagad Tani - Teknologi biointensif bisa menjadi solusi pertanian dalam menghadapi dampak krisis di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) global dan berdampak pada sektor pertanian.
Menurut Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) Institut Pertanian Bogor (IPB), Ivanovic Agusta, gejolak harga energi akibat konflik global menjadi momentum untuk mendorong inovasi pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Baca juga: Indonesia Ekspor Bumbu dan Makanan Siap Saji
Sementara itu, Prof Suryo Wiyono, Dekan Fakultas Pertanian IPB menjelaskan bahwa konflik global berdampak langsung terhadap produksi dan logistik pupuk dunia. Sebab kawasan Teluk memproduksi sekitar 40% pupuk nitrogen dunia, sehingga gangguan pasokan gas alam (LNG) sebagai bahan baku utama berpotensi menghambat produksi pupuk.
“Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku. Sekitar 42,89% bahan baku pupuk fosfor berasal dari Eropa dan negara-negara Arab yang kini terhambat risiko keamanan serta lonjakan biaya asuransi pengiriman,” jelasnya.
Selain itu, konflik juga berdampak pada penurunan ekspor produk pertanian. Uni Emirat Arab dan Arab Saudi selama ini menjadi pasar ekspor buah-buahan Indonesia seperti pisang, mangga, dan manggis terbesar kedua dan ketiga setelah China.
Adapun dampak lanjutan dirasakan langsung oleh petani melalui lonjakan harga input pertanian. Harga pupuk nitrogen global tercatat naik 32,4%, sementara pestisida diprediksi meningkat 20-30% akibat krisis energi dan biaya logistik.
Kenaikan harga BBM juga mendorong peningkatan biaya produksi, terutama pada transportasi dan operasional alat mesin pertanian, yang berujung pada penurunan keuntungan petani. Sehingga strategi adaptasi melalui penerapan teknologi biointensif menjadi opsi.
"Pendekatan ini mencakup budi daya padi biointensif yang mampu mengurangi penggunaan pupuk pabrikan hingga 30% dan pestisida hingga 70% tanpa menurunkan hasil produksi,” terang Suryo.
Suryo melanjutkan, petani didorong untuk menerapkan pertanian ekologis dengan memanfaatkan pupuk dan pestisida alami, serta meningkatkan bahan organik tanah untuk efisiensi penggunaan air dan energi. Diversifikasi energi terbarukan seperti biogas, panel surya, biomassa, dan energi angin juga dianjurkan untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Penguatan ekonomi komunitas menjadi langkah lain yang ditawarkan, melalui pengembangan forum inovasi teknologi ramah lingkungan dan penguatan pasar lokal serta usaha rumah tangga.
Sistem biointensif dinilai memiliki sejumlah keunggulan, antara lain efisiensi penggunaan input, berbasis ekologi dengan pemanfaatan mikroorganisme tanah, tahan terhadap stres lingkungan, serta berkelanjutan dengan jejak karbon rendah. Sistem ini juga mengandalkan bahan baku lokal dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mendekati 100%.
Secara konsep, sistem biointensif menekankan pada keterkaitan antara tanah sehat, mikroba (endofit, PGPR, antagonis), tanaman tahan stres, hingga menghasilkan produktivitas yang berkelanjutan dan stabil. Praktiknya diintegrasikan melalui rotasi tanaman, tumpang sari, pupuk hijau, dan sistem organik.
“Pada komoditas padi, penerapan teknologi biointensif menunjukkan peningkatan produktivitas hingga 24%, penurunan biaya produksi sekitar 20%, pengurangan penggunaan pupuk sebesar 30%, serta penurunan penggunaan pestisida hingga 77%,” ungkap Suryo.
Berdasarkan hasil uji di sejumlah daerah seperti Karawang, Subang, Indramayu, Tegal, dan Bojonegoro, menunjukkan bahwa metode biointensif menghasilkan produktivitas lebih tinggi dibandingkan metode konvensional.
“Dengan berbagai keunggulan tersebut, kami menilai teknologi biointensif dapat menjadi solusi strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah tekanan krisis global,” tukasnya.
