• 7 April 2026

Transformasi Pertanian Sumedang, Demplot Tabela Jadi Rujukan

uploads/news/2026/04/transformasi-pertanian-sumedang-demplot-695307a46c90b9c.jpg

Jagad Tani - Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sumedang bersama Balitbang Ketahanan Pangan Mandiri mengambil langkah strategis dalam mendorong transformasi pertanian lewat penyusunan metode pertanian demplot padi tanam benih langsung (Tabela).

Menurut Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir, metode tersebut dilakukan di areal persawahan Panyindangan Girang, Desa Sukamaju, Kecamatan Rancakalong. 

Baca juga: Pengendalian Inflasi Melalui Gerakan Tanam Cabai

“Kami sedang membangun sebuah model atau laboratorium pertanian yang bisa menjadi rujukan ke depan. Ada semangat besar di dalamnya, yaitu bagaimana menjawab persoalan mendasar di sektor pertanian, di mana masih banyak petani yang belum sejahtera,” ujar Dony.

Dilanjutkan bahwa demplot tersebut ditanam varietas padi Inpari 32 yang berasal dari Balai Benih Sukamandi Subang dengan masa tanam sekitar 110-120 hari dan luas lahan kurang lebih 170 bata. 

"Penggunaan varietas unggul tersebut menjadi bagian penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Ini menunjukkan pendekatan yang dilakukan sudah berbasis pada penggunaan varietas unggul dan perencanaan budidaya yang lebih terukur," sambungnya. 

Dony menambahkan, jika sebelumnya petani menggunakan sistem konvensional dengan metode pindah tanam, maka melalui sistem Tabela penanaman dilakukan langsung tanpa pindah tanam. Hal tersebut membuat proses budidaya menjadi lebih cepat dan efisien, sekaligus penggunaan pupuk serta pestisida menjadi lebih terukur.

“Berdasarkan analisis dari Dinas Pertanian Kabupaten Sumedang, biaya produksi pada sistem Tabela memang lebih tinggi sekitar Rp18,8 juta per hektare dibandingkan konvensional sekitar Rp11,5 juta per hektare,” terangnya.

Ia menegaskan bila di sisi lain potensi hasilnya juga akan meningkat, dengan perkiraan produksi bisa mencapai 16 ton per hektare. Peningkatan biaya produksi harus dilihat secara menyeluruh dengan memperhatikan keuntungan akhir yang diterima petani.

“Artinya, kami tidak hanya melihat biaya, tetapi harus melihat nilai akhir dan keuntungan yang diperoleh petani. Jika produktivitas meningkat signifikan bahkan hingga dua kali lipat, maka ini menjadi sangat layak untuk dikembangkan,” paparnya.

Melalui metode tersebut, hasil panen ke depan dinilai dapat meningkat, baik dari sisi kuantitas, kualitas beras yang dihasilkan, maupun efisiensi waktu tanam dan panen. Sehingga menjadi kunci dalam meningkatkan kesejahteraan petani.

“Karena langkah yang dihadapi tidak mudah, salah satunya adalah bagaimana kita bisa mengubah pola pikir petani dari sistem konvensional menuju sistem pertanian yang lebih terintegrasi. Ini bukan hal yang mudah, tetapi harus kita lakukan bersama-sama,” tukasnya. 

Related News