• 8 April 2026

Petani di Demak Menderita Sawahnya Tergenang

uploads/news/2026/04/tanggul-jebol-sawah-tergenang--3281247923ace1c.jpg

Jagad Tani - Banjir kembali melanda Kabupaten Demak, Jawa Tengah (Jateng), akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang pada awal April 2026 dan menyebabkan seluas 671 hektare lahan persawahan tergenang.

Secara Geografis, wilayah Demak di daerah hilir memang menjadi lintasan aliran sungai besar seperti Sungai Wulan, Sungai Cabean, dan Sungai Tuntang, sehingga sangat rentan terhadap limpasan air dari daerah hulu.

Baca juga: Inpres Terbit, Petani Jagung Lokal Dilindungi

"Ketika itu kebetulan di Kabupaten Demak sebagai bagian hilir cuacanya cerah, sedangkan bagian hulu yang merupakan daerah pegunungan yang tersebar di beberapa kabupaten sedang turun hujan dengan intensitas tinggi," terang Sekretaris Daerah Demak, Ahmad Sugiharto.

Banjir yang terjadi sejak 3 April 2026 dipicu oleh meningkatnya debit Sungai Tuntang hingga melampaui kapasitas, menyebabkan tanggul jebol di beberapa titik di Desa Trimulyo dan Sidoharjo. Genangan air mencapai 100-150 cm dan meluas ke sedikitnya sembilan desa di empat kecamatan, yakni Guntur, Karangtengah, Wonosalam, dan Kebonagung.

Dampak yang ditimbulkan cukup besar, selain menggenangi ratusan hektare sawah, juga mengakibatkan sebanyak 5.148 jiwa terdampak, dengan 2.839 jiwa mengungsi, 2.116 rumah terdampak, belum termasuk 29 tempat ibadah, 18 sekolah.

Bahkan jika melansir dari Antara, sebanyak 12 unit rumah di antaranya hanyut diterjang banjir, dan mengakibatkan 27 unit rumah warga Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak rusak berat maupun ringan.

Banjir ini juga merupakan kejadian berulang, setelah sebelumnya tanggul Sungai Tuntang jebol pada Februari 2026 yang sempat memutus akses jalan utama.

Genangan banjir pada ratusan hektare sawah menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian. Selain berpotensi menyebabkan gagal panen, banjir juga merusak struktur tanah dan menghambat musim tanam berikutnya.

Menurut Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, dampak jangka panjang terhadap petani jika ada keterlambatan dan ketidakcermatan dalam mendiagnosa dampak banjir, akan menyebabkan petani makin menderita.

"Selain gagal panen yang sudah di depan mata, juga akan membuat petani kita tak bisa menggarap sawahnya kembali dalam waktu cepat," terangnya.

Ia juga menegaskan bila pemulihan lahan tidak mudah, sebab rehabilitasi sawah terdampak banjir ini, bukan seperti pengerjaan proyek secara umum. Karena, rehabilitasi sawah ini akan membutuhkan waktu lebih panjang seiring teknis pengerjaannya yang komplek.

"Banjir yang merendam ratusan hektare sawah di Demak perlu dibaca sebagai gangguan langsung terhadap stabilitas produksi pangan di tingkat tapak," tegas Alex.

"Ketika sawah terendam, yang hilang bukan hanya hasil tanam, tetapi juga modal produksi yang sudah dikeluarkan petani, waktu kerja yang tidak dapat dipulihkan, dan peluang panen yang bergeser tanpa kepastian," lanjutnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen menekankan kolaborasi lintas pihak, dan tinggal tahap pemetaan secara detail, dan perhitungan kebutuhannya apa saja.

"Penanganannya tidak bisa sendiri, harus bersama-sama antara kabupaten, provinsi, dan juga pemerintah pusat,” tukasnya.

 

 

Related News