• 11 April 2026

Gula Rafinasi Bocor, SGN Rugi Rp680 Miliar

uploads/news/2026/04/gula-rafinasi-bocor-sgn-2317633778a2438.png

Jagad Tani - Di tengah kebutuhan gula nasional yang permintaannya masih tinggi, terjadi fenomena rembesan gula rafinasi ke pasar konsumsi yang dinilai merugikan petani.

Dony Oskaria selaku Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia mengungkapkan maraknya gula rafinasi atau gula industri yang merembes (bocor) ke pasar menjadi biang kerok kerugian, dan membeberkan jika tahun 2025 lalu, PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) atau Sugar Co menelan kerugian sebesar Rp680 miliar.

Baca juga: Petani di Demak Menderita Sawahnya Tergenang

“Sugar Co membukukan rugi Rp680 miliar pada 2025 akibat harga yang tidak cukup baik, yang dipicu oleh impor gula yang tidak terkontrol,” ujarnya dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI di Senayan, Rabu (08/04).

Menurut Dony, masuknya gula rafinasi impor telah menekan industri gula dalam negeri. Produk impor yang membanjiri pasar tidak hanya menghambat penyerapan gula petani, tetapi juga mengganggu kinerja perusahaan gula nasional.

Berdasarkan proyeksi Kementerian Pertanian tahun 2025, luas panen tebu eksisting mencapai 563.357 hektare dengan produktivitas Gula Kristal Putih (GKP) sebesar 4,74 ton per hektare atau setara 69,35 ton tebu per hektare. Dengan capaian tersebut, produksi GKP diperkirakan sebesar 2,67 juta ton.

Sementara itu, kebutuhan gula nasional mencapai 6,7 juta ton yang terdiri dari 2,8 juta ton gula konsumsi dan 3,9 juta ton gula industri, sehingga masih terdapat kesenjangan yang perlu segera diatasi.

Menyoroti kondisi petani tebu yang kian tertekan akibat tidak terserapnya gula produksi dalam negeri, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bila persoalannya tidak hanya terjadi pada produksi, tetapi juga pada tata niaga yang belum sepenuhnya berpihak kepada petani.

“Kita temukan rembesan gula rafinasi yang masuk ke pasar sebagai gula konsumsi. Ini sangat membahayakan karena menekan harga dan membuat gula petani tidak terserap. Kalau ini tidak ditertibkan, petani yang paling dirugikan,” ucapnya.

Meskipun impor gula masih dilakukan, gula produksi dalam negeri justru sulit terserap di pasar. Hal yang sama juga terjadi pada molase. Jika sebelumnya harga molase mencapai Rp1.900 per liter, pada Maret 2026 turun hingga sekitar Rp1.000.

"Ini tentu perlu menjadi perhatian, karena gula kita pun tidak bisa laku,” tuturnya.

Penertibkan distribusi gula rafinasi melalui kebijakan larangan dan pembatasan (lartas), serta memperketat pengawasan agar tidak terjadi kebocoran ke pasar konsumsi.

Selain pembenahan di sektor hilir, pemerintah juga menggenjot peningkatan produksi di sektor hulu melalui program bongkar ratoon (peremajaan tebu). Amran juga mengungkapkan jika sekitar 70-80% tanaman tebu nasional saat ini sudah tidak produktif, sehingga perlu segera diremajakan.

“Bapak Presiden meminta kami membantu petani tebu. Kami sudah anggarkan Rp1,7 triliun untuk program bongkar ratoon, dengan target peremajaan sekitar 300 ribu hektare secara bertahap,” tukasnya.

Related News