• 10 April 2026

Kembangkan KWT untuk Budidaya Tanaman dalam Botol

uploads/news/2026/04/bertani-dalam-botol-472314915910e1e.jpeg

Jagad Tani - Hapsiati, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Maccodes, terus menggerakkan pemberdayaan perempuan melalui kegiatan pertanian dan pengolahan tanaman obat di wilayah RW setempat yang mencakup RT 1 hingga RT 10.

Kelompok yang dipimpinnya itu telah berdiri sejak tahun 2013 dan aktif menjadi wadah silaturahmi sekaligus pengembangan keterampilan bagi para ibu rumah tangga.

Baca juga: Dari Ketidaksengajaan, Hara Farm Hasilkan Bibit Nila

Selain memimpin KWT, Hapsiati yang merupakan lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini juga menjabat sebagai Direktur Esha Flora, perusahaan bioteknologi kultur jaringan di Kedung Waringin, Tanah Sareal, Kota Bogor.

“Pokoknya yang mengatur semua kegiatan di Esha Flora,” ujarnya kepada Jagad Tani.

"Anggota KWT Maccodes sedang mengecek tanaman (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"
 

Dalam kegiatannya, KWT Maccodes rutin melakukan kegiatan berkebun setiap minggu. Beragam tanaman dibudidayakan, mulai dari tanaman obat hingga tanaman hias yang sempat menjadi tren, terutama anggrek.

“Dulu ibu-ibu belajar banyak soal tanaman hias, terutama anggrek. Semua dilakukan bergiliran sesuai jadwal,” katanya.

Tak hanya menanam, anggota KWT juga diajarkan untuk mandiri dengan memproduksi pupuk organik dan membiakkan mikroba sendiri agar tidak bergantung pada pihak luar. Dari sekitar 30 anggota yang terdaftar, sebanyak 15 orang tercatat aktif mengikuti kegiatan.

Saat ini, tanaman yang banyak dibudidayakan antara lain rosella dan pegagan. Hasil panennya dimanfaatkan menjadi berbagai olahan herbal seperti minuman kesehatan hingga bahan obat tradisional.

“Kalau rosella biasanya dibuat minuman, pegagan bisa dikeringkan lalu dijadikan teh atau obat,” jelas Hapsiati.

Ia menjelaskan, pegagan menjadi tanaman andalan karena memiliki banyak manfaat kesehatan. Menurutnya, tanaman tersebut dipercaya membantu regenerasi sel, menjaga fungsi otak, hingga disebut setara manfaatnya dengan ginkgo biloba.

“Pegagan itu obat awet muda, membantu regenerasi sel, baik untuk otak juga,” ujarnya.

Selain pegagan, KWT juga menanam jahe merah, stevia, hingga rosella yang kerap diolah menjadi minuman herbal. Daun stevia digunakan sebagai pemanis alami pengganti gula untuk menghindari risiko diabetes.

Dalam proses pengolahan pegagan, daun dibersihkan lalu dikeringkan sebelum dihaluskan menjadi serbuk untuk diseduh layaknya teh.

“Kalau sudah kering, diblender jadi serbuk lalu disimpan. Nanti tinggal diseduh,” katanya.

"Hapsiati sedang memindahkan botol kultur jaringan (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"
 

Tak hanya fokus pada tanaman obat, KWT Maccodes juga sempat mengembangkan keterampilan kultur jaringan, bidang yang menurut Hapsiati masih sangat jarang digeluti kelompok wanita tani di Indonesia.

"Yang pastinya terutama untuk kultur jaringan, kan kita mungkin di Indonesia juga nggak ada KWT yang fokusnya ke kultur jaringan. Jadi ingin mengembangkan itu," sambungnya.

Anggota KWT bahkan telah belajar teknik subkultur, inisiasi, hingga proses aklimatisasi tanaman hasil kultur jaringan. Dalam praktiknya, beberapa anggota juga membawa alat inokulasi atau enkas ke rumah masing-masing untuk melakukan penanaman mandiri.

“Dulu hasilnya lumayan banyak. Siapa yang menanam, nanti kalau dijual dapat hasilnya,” ungkapnya.

Sebagai bentuk peningkatan ekonomi, Hapsiati pernah menerapkan sistem upah untuk anggota yang melakukan subkultur tanaman. Misalnya, Rp20 ribu untuk 20 botol hasil subkultur dan Rp30 ribu untuk 30 botol.

Namun, aktivitas tersebut kini mulai berkurang karena sebagian besar anggota memiliki kesibukan lain.

"Ibu-ibu anggota KWT menunjukkan bibit tanaman hasil dari kultur jaringan, yang baru dipindah tanam (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"
 

Selain berkebun, KWT Maccodes juga memiliki program bank sampah yang rutin dilaksanakan setiap Rabu. Dalam program ini, anggota mengumpulkan berbagai barang bekas mulai dari besi, aluminium, hingga peralatan rumah tangga rusak untuk kemudian disetorkan dan ditukar menjadi uang.

“Nanti dihitung nilainya, terus anggota dapat uang dari hasil sampah itu,” jelasnya.

Nama Maccodes sendiri diambil dari salah satu jenis anggrek langka asal Gunung Salak Halimun yang kini hampir punah di habitat aslinya akibat perburuan liar.

“Itu anggrek langka. Dulu banyak diburu sampai diekspor ke Jepang untuk obat patah tulang,” katanya.

"Anggota KWT sedang menutup botol kultur jaringan (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"
 

Ke depan, Hapsiati berharap KWT Maccodes dapat terus berkembang, khususnya dalam bidang kultur jaringan yang menjadi ciri khas kelompok mereka. Ia juga ingin lebih banyak generasi muda terlibat agar kegiatan KWT tetap berlanjut.

“Harapannya anak muda bisa ikut terlibat, karena sekarang anggota KWT kebanyakan sudah sepuh,” ujarnya.

Menurutnya, selain menjadi ajang silaturahmi, KWT juga memiliki potensi besar dalam meningkatkan ekonomi masyarakat melalui penjualan pupuk organik, produk herbal, hingga hasil budidaya tanaman.

“Yang utama untuk kesehatan, tapi ke depannya juga ingin bisa membantu ekonomi warga,” pungkasnya.

Related News