• 12 April 2026

Ekosistem Sapi Perah Diperkuat, Swasembada Bisa Dipercepat

uploads/news/2026/04/ekosistem-sapi-perah-diperkuat--96655d6d6b224c3.jpg

Jagad Tani - Penguatan ekosistem sapi perah dari hulu hingga hilir bisa menjadi langkah jitu dalam mempercepat transformasi menuju swasembada susu nasional.

Direktur Ketersediaan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Indra Wijayanto, menegaskan jika pembangunan ekosistem sapi perah yang terintegrasi menjadi kunci dalam meningkatkan kesejahteraan peternak. 

Baca juga: Biointensif Jadi Alternatif Petani Atasi Krisis Energi

“Ini harus kita dorong bersama-sama, dan kami siap untuk membantu agar ekosistem ini terbangun dari hulu hingga hilir,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (12/04). 

Indra menambahkan, penguatan sektor persusuan harus dilakukan secara komprehensif, meliputi peningkatan produktivitas di hulu hingga pengolahan dan distribusinya di hilir. 

“Ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi kita. Kita sudah membuktikan mampu mencapai swasembada beras dan kita optimis dapat meningkatkan produksi susu dalam negeri menuju swasembada susu,” terangnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, populasi sapi perah nasional tercatat sebanyak 499.360 ekor dengan produksi susu segar mencapai 820.874,82 ton.

Sementara itu, untuk produksi susu masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, dengan Jawa Timur sebagai kontributor terbesar, yakni populasi 301.735 ekor dan produksi 475.394,86 ton.

Di sisi hilir, penguatan industri pengolahan dan distribusi menjadi faktor penting dalam meningkatkan nilai tambah produk, serta memperluas akses masyarakat terhadap konsumsi susu.

Bahkan sepanjang tahun 2024, harga susu sapi segar menunjukkan tren kenaikan moderat dari Rp 16.389 per liter pada Januari menjadi Rp 16.619 per liter pada Desember, atau meningkat sebesar 1,40%. 

Menurut Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto, pembangunan ekosistem sapi perah yang terintegrasi dapat meningkatkan kebutuhan konsumsi susu nasional, karena belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.

“Tema ini menjadi relevan di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi susu nasional yang belum sepenuhnya terpenuhi dari produksi dalam negeri," ujar Panggah. 

Oleh karena itu, Panggah menilai bila memastikan adanya langkah-langkah strategis dan terintegrasi, tidak hanya terfokus pada peningkatan produksi di tingkat peternak, tetapi juga mencakup penguatan keseluruhan rantai pasok secara berkelanjutan.

Ia juga menegaskan bahwa sektor peternakan sapi perah memiliki peran penting, tidak hanya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, tetapi juga dalam memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

“Susu sebagai salah satu sumber protein hewani berkualitas memiliki kontribusi signifikan dalam pemenuhan gizi, khususnya bagi anak-anak, sehingga menjadi komponen penting dalam keberhasilan program nasional seperti Makan Bergizi Gratis,” pungkasnya.

 

Related News