• 12 April 2026

Harga Ayam Hidup Usai Lebaran Kian Melemah

uploads/news/2026/04/harga-ayam-hidup-usai-65524b34d922603.jpg

Jagad Tani - Untuk mengatasi kondisi harga ayam hidup yang kian melemah pasca Ramadan dan Idulfitri, pemerintah akan bersinergi dengan pelaku usaha yang bergerak di bibit ayam/day old chick (DOC), serta pakan. 

"Untuk ayam hidup, kita akan memanggil (pelaku usaha) lDOC maupun pakan. Tentu juga kita akan memanggil pemain-pemain besarnya, agar bisa mengendalikan harga," ujar Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa. 

Baca juga: Biointensif Jadi Alternatif Petani Atasi Krisis Energi

Ketut juga membeberkan, jangan sampai peternak kecil terganggu oleh harga ayam yang turun sehabis Lebaran.

Melalui pantauan Bapanas, rerata harga ayam hidup di beberapa daerah tercatat mengalami depresiasi harga di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat produsen yang ditetapkan, yakni Rp25.000 per kg.

Di Sumatera Selatan terpantau di Rp 21.938 per kg atau 12,25% di bawah HAP, di Sulawesi Selatan justru harganya terpantau masih cukup tinggi, di Rp 27.409 per kg (9,64%) melampaui HAP. Untuk rerata harga ayam hidup secara nasional berada di kisaran Rp24.076 per kg (3,7%) berada tipis di bawah HAP produsen.

Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rilis inflasi bulan Maret 2026 menyebutkan bahwa daging ayam ras menjadi komoditas komponen harga bergejolak dengan andil tertinggi, baik inflasi secara bulanan maupun tahunan.

Bahkan, hingga pekan terakhir Maret tahun ini, Indeks Perkembangan Harga (IPH) daging ayam ras tercatat cukup siginifikan, yakni sebanyak 237 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan.

Namun pergerakan kenaikan IPH daging ayam ras sampai awal April mulai mereda. Sebelumnya, ada kenaikan IPH di 237 kabupaten/kota, kemudian turun di 148 kabupaten/kota. Begitu pula jumlah daerah dengan penurunan IPH daging ayam ras yang meningkat menjadi 125 kabupaten/kota.

"Tatkala di hulunya menurun, tentu kita harapkan di hilir ini juga harus turun. Jangan sampai di hulunya turun, kemudian hilirnya masih harga tinggi. Nah ini kasihan yang peternaknya," ujar Ketut.

Menurutnya, sinergi erat bersama para pelaku usaha yang terkait dapat mewajarkan kembali harga produk unggas. Kepastian penyerapan atau offtake ini menjadi hal penting yang harus dipastikan pemerintah.

"Oleh karena itu, kita akan tata, kita akan kumpulkan kembali. Kita akan koordinasi dengan para peternak, pelaku usaha besar, yang kita harapkan bisa meng-offtake daripada harga-harga yang ada di peternak, sehingga harganya mulai wajar," tukas Ketut.

Selain itu, penyiapan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan sebagai upaya agar setidaknya dapat menekan biaya pokok produksi para peternak. Pemerintah menganggarkan program SPHP jagung pakan tahun 2026,  sebanyak Rp 678 miliar.

Dari jumlah tersebut, total alokasi salur mencapai 242 ribu ton, hal tersebut untuk membantu peternak unggas dan non-unggas dalam memperoleh jagung pakan berkualitas dengan harga lebih terjangkau.

Melalui data BPS,  indeks harga yang diterima peternak unggas di Maret 2026 yang berada di 138,19 menjadi yang tertinggi sejak tahun 2023. Jenis indeks ini terus bertumbuh setelah pada Desember 2025 berada di angka 129,68.

Related News