• 12 April 2026

Jaga Kestabilan Tahu-Tempe, Tok! Kedelai Impor Rp11.500/Kg

uploads/news/2026/04/jaga-kestabilan-tahu-tempe-tok--59257e3f2675769.jpg

Jagad Tani - Kesepakatan antara importir dan pengrajin tahu tempe untuk menjaga stabilitas harga kedelai melalui penerapan Harga Acuan Penjualan (HAP) yang disepakati yakni sebesar Rp11.500 per kilogram di tingkat importir.

Hal ini menjadi acuan agar harga kedelai di tingkat pengrajin tetap berada di bawah Rp12.000 per kilogram, sehingga stabilitas harga pangan berbasis kedelai tetap terjaga di tengah kecamuk geopolitik yang berdampak pada rantai pasok global. 

Baca juga: Gula Rafinasi Bocor, SGN Rugi Rp680 Miliar

“Kami sudah verifikasi langsung ke pelaku usaha, dan informasi yang menyebut harga kedelai tembus Rp20 ribu itu tidak benar. Harga tetap di bawah HAP, bahkan di level importir masih sekitar Rp11.500,” tegas Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Yudi Sastro. 

Ia memastikan kondisi pasokan dan harga saat ini masih terkendali, walaupun dinamika global memberikan tekanan, terutama pada biaya logistik, transportasi, hingga komponen penunjang lainnya.

“Persediaan masih cukup, harga juga masih terkendali sesuai dengan acuan pemerintah. Jadi tidak perlu dikhawatirkan. Memang ada dampak dari perubahan geopolitik yang menyebabkan ongkos produksi dan distribusi meningkat. Tapi untuk kondisi saat ini pasokan masih cukup dan harga masih terkendali,” jelasnya.

Melaluu data Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) yang diolah Badan Pangan Nasional per 8 April 2026, harga kedelai di berbagai wilayah masih berada dalam rentang yang wajar dan sesuai dengan HAP.

Di Jakarta, rerata harga kedelai berada di kisaran Rp10.500-Rp11.000 per kg, Jawa Rp10.555 per kg, Bali dan NTB Rp10.550 per kg, Sumatra Rp11.450 per kg, Sulawesi Rp11.113 per kg, dan Kalimantan Rp10.908 per kg.

Angka di atas masih berada di bawah HAP kedelai impor di tingkat konsumen (pengrajin tahu tempe) yang ditetapkan maksimal Rp12.000 per kg.

Direktur PT FKS Multi Agro Tbk, Tjung Hen Sen, selalu importir menyampaikan bila harga dan pasokan kedelai masih dalam kondisi terkendali meskipun menghadapi tekanan global. 

“Saya rasa di tingkat importir saat ini sudah wajar, mungkin di sekitar Rp10.100 sampai Rp10.300 per kilogram tergantung wilayah. Di tingkat pengrajin mungkin sekarang ini sekitar Rp10.500 sampai dengan Rp11.000 per kilogram,” ucapnya. 

Menurutnya, saat ini pelaku usaha terus berupaya menjaga kestabilan dari harga komoditas kedelai, meskipun ada beberapa faktor seperti situasi geopolitik yang berdampak pada ongkos logistik, asuransi kapal, hingga bahan penunjang. 

Ditambahkan pula jika semua pihak harus terus bersinergi untuk menjaga stabilitas harga kedelai.

“Menjaga stabilitas bukan tanggung jawab satu pihak saja, melainkan melibatkan semua pihak baik swasta maupun pemerintah. Perlu saling bekerja sama supaya suasana usaha menjadi lebih kondusif,” imbuhnya.

Adapun Wibowo Nurcahyo selaku Sekretaris Jenderal Gakoptindo, menegaskan bahwa harga produk tahu dan tempe di tingkat pengrajin masih stabil.

“Kami jamin tahu tempe tidak naik harganya, tapi mungkin ada penyesuaian dari sisi volume. Dari sisi rasa dan kualitas tetap kami jaga. Hasil pantauan kami harga tahu tempe tetap stabil di kisaran Rp12.000 sampai Rp13.000, tidak ada kenaikan yang cukup signifikan,” terangnya. 

Ia juga memastikan bahwa harga kedelai sebagai bahan baku utama masih berada dalam batas aman.

“Untuk kedelainya kami beli dari importir itu di harga Rp10.200 dan itu masih sangat jauh di bawah HAP (harga acuan penjualan), jadi kalau dari harga kami masih stabil. Justru sebenarnya yang menjadi sedikit masalah bukan dari kedelainya tapi dari penunjangnya yaitu plastik,” jelasnya.

Wibowo menambahkan, pihaknya bersama para importir telah berkomitmen menjaga stabilitas harga dan pasokan.

“Ya ada komitmen kami sepakat dari HAP Rp11.500 di tingkat para importir dan Rp12.000 di tingkat kami (pengrajin tahu tempe) dan menurut kami itu angka yang masih wajar. Kami harap masyarakat tidak terpancing dengan isu-isu berita yang tidak sesuai,” tukasnya.

Related News