Tekan Impor, Pembenihan Bawang Putih Harus Mandiri
Jagad Tani - Sektor perbenihan bawang putih harus terus diperkuat sebagai langkah untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan menekan ketergantungan impor.
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Fadjry Djufry, mengungkapkan bahwa diperlukan intervensi yang terstruktur untuk mengurangi kesenjangan antara kebutuhan dan produksi nasional yang masih menjadi tantangan utama.
Baca juga: Ekosistem Sapi Perah Diperkuat, Swasembada Bisa Dipercepat
"Kita ingin mengembalikan kejayaan bawang putih nasional. Saat ini, ketergantungan kita terhadap impor masih sangat tinggi, mencapai 600 hingga 700 ribu ton per tahun, sementara produksi lokal kita baru di angka 50 ribu ton,” jelasnya.
Kemandirian benih dijelaskan Fadjry merupakan fondasi utama dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Ketergantungan terhadap benih dari luar negeri dinilai sebagai risiko yang dapat menghambat keberlanjutan produksi nasional dalam jangka panjang.
"Tidak mungkin negara lain akan terus memberikan benihnya kepada kita, karena mereka juga eksportir. Jika kita tidak menyiapkan benih sendiri, negara ini tidak akan pernah berdaulat,” terangnya.
Fadjri menambahkan bila di Lembang, Jawa Barat, sudah siapkan varietas unggul seperti Lumbu Hijau dan Tawangmangu yang potensinya mencapai 15 hingga 25 ton per hektare.
Selain itu, kesiapan teknologi dan sumber daya, Indonesia dinilai telah memiliki modal yang cukup kuat untuk melakukan lompatan produksi. Mulai dari teknologi kultur jaringan, varietas unggul, hingga peta lahan potensial di dataran tinggi, telah tersedia dan siap dioptimalkan melalui kerja sama lintas sektor.
"Kita punya teknologinya, kita punya varietas unggulnya, dan kita sudah memetakan lahan potensial di atas 1.000 mdpl mulai dari Sumatra hingga Sulawesi. Sekarang tinggal bagaimana kita berkolaborasi antara eksekutif dan legislatif untuk mendorong percepatan tanam secara masif di seluruh wilayah Indonesia,” ungkap Fadjry.
Walaupun beigtu, ia mengingatkan jika keberhasilan program ini sangat bergantung pada dukungan, terutama dari sisi anggaran, agar proses penyediaan benih hingga pemurnian varietas dapat berjalan lancar dan tidak terhenti di tengah jalan.
"Kami optimistis swasembada itu bisa dicapai. Namun, tantangan di lapangan mulai dari penyediaan benih hingga pemurnian varietas memerlukan dukungan anggaran yang konsisten agar target 100.000 hektare lahan tanam bisa segera terwujud,” harapnya.
Penguatan sektor perbenihan ini diharapkan menjadi fondasi utama dalam transformasi pertanian Indonesia, tidak hanya untuk bawang putih, tetapi juga untuk berbagai komoditas hortikultura lainnya, sehingga kemandirian pangan nasional dapat terwujud.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau akrab disapa Titiek Soeharto, menjelaskan tentang persoalan utama bawang putih bukan hanya dari produksi, tapi juga soal benihnya yang belum mampu menopang kebutuhan nasional.
"Komoditas bawang putih merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat yang hingga saat ini masih memiliki ketergantungan terhadap impor. Penguatan sektor hulu, khususnya perbenihan, menjadi kunci utama dalam membangun kemandirian produksi dalam negeri," papar Titiek.
Ia menilai kualitas benih menjadi faktor yang paling menentukan dalam keberhasilan pembangunan pertanian. Menurutnya, tanpa benih unggul yang kuat dan adaptif, berbagai program peningkatan produksi tidak akan memberikan hasil optimal di lapangan.
"Kualitas benih akan menentukan produktivitas, ketahanan terhadap perubahan iklim, serta daya saing produk pertanian kita,” ucapnya saat Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI ke Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Sayuran di Lembang, Jawa Barat, Kamis (09/04) lalu.
Percepatan swasembada bawang putih harus dimulai dengan pembenahan menyeluruh, termasuk mengidentifikasi berbagai hambatan yang selama ini menghambat produksi dalam negeri.
Tentunya perbaikan itu dimulai dari pembenahan keterbatasan produksi dan distribusi benih berkualitas, kelembagaan pembenihan yang belum optimal, akses pembiayaan dan sarana produksi bagi petani, dan integrasi hulu-hilir yang masih perlu diperkuat.
"Kami ingin membantu apa yang bisa kita bantu untuk meningkatkan produktivitas dan kinerja dari BRMP Sayuran ini. Katanya kurang dana, insyaallah kita akan perjuangkan untuk tambahan dananya,” tukas Titiek.

