• 15 April 2026

Peran Iran dalam Perkembangan Pertanian Modern

uploads/news/2026/04/peranan-iran-dalam-perkembangan-613288346f59476.jpeg

Jagad Tani - Para arkeolog menemukan bukti kuat bahwa wilayah Iran memainkan peran penting dalam awal perkembangan pertanian, melalui penggalian di kaki Pegunungan Zagros.

Penggalian itu mengungkap sisa-sisa komunitas pertanian Zaman Batu yang telah menanam tanaman seperti jelai, kacang polong, dan lentil sejak sekitar 12.000 tahun lalu.

Baca juga: Lika-Liku Perjalanan Seorang Arsitek Menjadi Petani Selada

Melansir dari NRP.org, penelitian ini dipimpin oleh Nicholas Conard dari Universitas Tubingen pada 2009, di kaki Pegunungan Zagros yang berlokasi di dekat perbatasan Iran-Irak.

Hasilnya sedimen di lokasi tersebut kaya akan artefak, termasuk alat batu yang menyerupai sabit, lesung, alu, serta ratusan biji-bijian hangus yang masih terawat dengan baik.

Meski bukan ahli botani, Conard mengenali bentuk biji-bijian tersebut sebagai lentil, gandum, dan jelai. Untuk memastikan temuannya, ia mengirim sampel kepada Simone Riehl, seorang ahli arkeobotani.

Hasil mengidentifikasi berbagai jenis kacang-kacangan dan rumput, serta sejenis gandum yang disebut Emmer, yang dikenal sebagai tanaman yang umum ditanam pada abad-abad berikutnya di seluruh Timur Tengah. 

Menurut Riehl, sebagian besar sampel berasal dari periode pra-pertanian, ketika manusia masih menanam tanaman liar tanpa proses seleksi atau pemuliaan.

Namun, pada lapisan yang lebih muda, sekitar 10.000 tahun lalu, mulai terlihat tanda-tanda domestikasi awal. Misalnya, gandum emmer menunjukkan bulir yang lebih keras, dengan ciri hasil dari seleksi manusia untuk mempermudah panen.

Temuan ini mendapat perhatian luas dari kalangan ilmuwan. Melinda Zeder, seorang kurator arkeologi dunia lama di Museum Sejarah Alam Smithsonian menyebut penelitian ini memperluas pemahaman tentang tahap paling awal eksperimen manusia dengan pertanian. 

Selama ini, para ilmuwan meyakini bahwa pertanian pertama kali berkembang di wilayah barat Bulan Sabit Subur, meliputi Irak, Suriah, Turki, Yordania, dan Israel, ataupun di wilayah lembah subur seperti Mesopotamia dan seputar kawasan Sungai Nil.

Iran yang berada di bagian timur kawasan itu, sebelumnya dianggap tidak berperan dalam asal-usul geografis pertanian. Namun, temuan ini menunjukkan bahwa Iran turut berperan dalam eksperimen pertanian.

Sejalan dengan temuan tersebut, berbagai penelitian lain juga menegaskan panjangnya sejarah pertanian di dataran tinggi Iran. Wilayah ini diketahui menjadi salah satu pusat awal domestikasi hewan, termasuk kambing sekitar 10.000 SM.

Selain itu, masyarakat kuno Iran mengembangkan teknik budidaya tanaman dan pengelolaan air, seperti sistem irigasi bawah tanah qanat yang masih digunakan hingga kini.

Peran Iran dalam sejarah pertanian juga terlihat dari penyebaran berbagai komoditas ke dunia. Beberapa buah seperti persik pertama kali masuk ke Eropa dari Persia, yang terlihat dari nama Latinnya Persica, yang kemudian menjadi kata peach dalam bahasa Inggris.

Begitu juga dengan yang terjadi pada tulip, yang pertama kali dibudidayakan di Persia kuno, serta bayam, di mana kata spinach berasal dari kata Persia Esfenaj. Pada tahun 647 M bahkan bangsa Tiongkok menyebut nama bayam sebagai herba Persia.

Selain itu, dalam buku L'Iran Antique, yang ditulis oleh Clement Hurat dan Louis Delaporte menjelaskan kata mawar dalam berbagai bahasa Indo-Eropa, Aram, dan Arab memiliki akar kata yang merujuk pada istilah Persia vard.

Untuk kawasan Fars di Iran selatan, produksi minyak mawar juga pernah menjadi salah satu komoditas penting yang diperdagangkan hingga ke berbagai daerah di Timur Tengah dan Eropa.

Dalam peninggalan arsitektur kuno, terdapat relief di kompleks Persepolis, yakni ibu kota Kekaisaran Achaemenid yang berusia sekitar 2.500 tahun menampilkan motif bunga dan pohon cemara.

Melalui bukti arkeologis, botani, dan historis, hal ini menunjukkan peranan Iran sebagai salah satu wilayah yang penting dalam pertanian global, serta memberi pengaruh terhadap perkembangan peradaban manusia.

Bahkan lewat data Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Iran menjadi salah satu eksportir komoditas penting pertanian di dunia, mulai dari safron hingga pistachio. Untuk pistachio, Iran adalah produsen terbesar kedua di dunia pada 2024 dengan 316.100 ton metrik.

Related News