• 21 April 2026

Harga Plastik Melonjak, Harga Daun Pisang Segini

uploads/news/2026/04/harga-plastik-melonjak-harga-8100475b7712dc5.jpeg

Jagad Tani - Kenaikan harga plastik mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengimbau para pedagang untuk beralih ke bahan pembungkus yang lebih ramah lingkungan, seperti daun pisang.

Namun, imbauan tersebut belum berdampak besar terhadap peningkatan penjualan di tingkat pedagang. Pak Tukiman, salah seorang pedagang daun pisang di Pasar Kebayoran, Jakarta Selatan, mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada lonjakan permintaan.

Baca juga: Lika-Liku Perjalanan Seorang Arsitek Menjadi Petani Selada

“Nggak ada lonjakan, masih sama seperti biasa, belum ada perubahan signifikan pembeli,” ujarnya saat ditemui di kios daun pisang miliknya, Selasa pagi (14/04).

Selama ini, daun pisang banyak dimanfaatkan sebagai pembungkus berbagai makanan tradisional. Di antaranya untuk kue-kue seperti lemper, nagasari, lupis, dan kue bugis, serta makanan lain seperti lontong, pepes, arem-arem, nasi kucing hingga nasi bakar.

Menurut Pak Tukiman, mayoritas pembelinya berasal dari kalangan pedagang kue tradisional. Harga daun pisang pun relatif terjangkau, yakni sekitar Rp10.000 untuk 20 lembar.

"Kebanyakan (pembeli yang datang ke sini itu) pedagang kue, (ada pedagang) tempe juga," ungkapnya. 

Berdasarkan pantauan tim Jagad Tani, varian harga daun pisang di pasar juga beragam, tergantung dari jumlah isinya di lapak-lapak pedagang di Pasar Kebayoran maupun Pasar Bata Putih. Untuk daun pisang isi 10 lembar bahkan ada yang dijual dengan harga Rp5.000,.

Selain lebih ramah lingkungan, penggunaan daun pisang juga memberikan manfaat lain, seperti aroma khas yang dapat menambah cita rasa makanan serta sifatnya yang mudah terurai di alam.

Meski demikian, tentu diperlukan waktu dan dorongan lebih lanjut agar masyarakat dan pelaku usaha beralih secara luas dari plastik ke bahan alami, serta ramah lingkungan ini.

Pak Tukiman sendiri telah menekuni usaha ini sejak tahun 1985. Ia menceritakan kondisi pasar yang jauh berbeda dibandingkan sekarang. “Mulai dari pasarnya masih jelek, belum kayak sekarang. Jalanannya agak susah dulu, kalau mobil ke pasar aja nggak bisa,” kenangnya.

Related News