Sapi Perah Organik Indonesia-Denmark Akan Bergulir 2027
Jagad Tani - Transformasi subsektor peternakan sapi perah menuju sistem yang lebih modern, efisien dan berkelanjutan terus diperkuat melalui kolaborasi antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Denmark.
Melalui program Strategic Sector Cooperation (SSC), kedua negara tidak hanya mencatat berbagai capaian penting, tetapi juga mulai menyiapkan langkah lanjutan menuju fase ketiga yang direncanakan bergulir pada 2027.
Baca juga: Ayam Brahma Porselen, Bernilai Tinggi
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Hary Suhada, menegaskan bahwa kolaborasi Indonesia–Denmark melalui SSC menjadi faktor penting dalam mendorong perubahan tersebut.
“SSC Indonesia–Denmark bukan sekadar program kerja sama, tetapi menjadi pengungkit transformasi menuju sistem peternakan organik yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan. Kami melihat dampak nyata di lapangan, terutama dalam peningkatan kapasitas SDM dan perubahan pola budidaya,” ujarnya.
Ditambahkan jika di fase ketiga program, nantinya akan difokuskan untuk memperluas manfaat agar dapat dirasakan lebih banyak pihak, sekaligus memperkuat kemandirian sektor peternakan nasional.
Kepala BBPTU HPT Baturraden, Dani Kusworo, dan perwakilan dari berbagai unit kerja di lingkungan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.
Sementara itu, Sector Counsellor for Food and Agriculture Kedutaan Besar Denmark di Indonesia, yakni Lotte Dam, menilai bahwa kemitraan yang terjalin sejauh ini berjalan efektif dan berada di jalur yang tepat.
“Kolaborasi ini mencerminkan bagaimana pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarnegara dapat mendorong perubahan nyata. Denmark berkomitmen untuk terus mendukung Indonesia melalui inovasi, teknologi, dan praktik terbaik dalam pengembangan sektor susu organik,” kata Lotte.
Kedua pihak menyoroti hasil kerja sama yang telah memberi dampak bagi pengembangan peternakan sapi perah organik di Indonesia. Salah satu capaian penting adalah terselenggaranya pelatihan Training of Trainers di bidang organic dairy farming, yang berhasil mencetak tenaga pelatih lokal yang kompeten.
Selain itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia juga didorong melalui pelatihan teknis dan short course. Program ini tidak hanya menyasar aparat pemerintah, tetapi juga pelaku usaha dan praktisi peternakan, guna mempercepat penerapan sistem organik di lapangan.
Perubahan di sektor produksi pun terlihat melalui sejumlah unit peternakan sapi perah yang telah beralih dari sistem konvensional ke organik, baik dari sisi manajemen budidaya maupun pengelolaan usaha.
Bahkan arah kebijakan pada fase ketiga SSC akan difokuskan pada penguatan kelembagaan dan keberlanjutan program, seperti memperkuat peran BBPTU HPT Baturraden sebagai pusat unggulan (center of excellence) peternakan sapi perah organik.
Tidak hanya itu saja, peningkatan kapasitas tenaga teknis di bidang perbibitan dan produksi ternak, serta memperkuat regulasi yang mendukung ekosistem peternakan organik di Indonesia, juga dinilai akan difokuskan.

