• 17 April 2026

Depot Sayur Sejahtera, dari Punk ke Pangan

uploads/news/2026/04/dari-jalanan-ke-sayuran--56486c4a289bc79.jpeg

Jagad Tani - Di sudut Kota Solo, hiruk-pikuk pasar tradisional menjadi saksi perjalanan tak biasa seorang perantau dari Jakarta. Namanya Hilman Ramadhon, seorang anak punk yang memiliki cerita menarik tentang keberanian, adaptasi, dan pilihan hidup.

Hilman datang ke Solo pada tahun 2024, meski awalnya hanya datang untuk berkunjung dan main ke kota tersebut, hingga akhirnya ia mencoba peruntungan dengan berjualan kopi.

Baca juga: Kembangkan KWT untuk Budidaya Tanaman dalam Botol

"Ya karena memang buat memenuhi kebutuhan hidup, bertahan hidup, ya apapun selagi nggak merugikan orang dan selama halal gitu ya kita jalanin," ucap Hilman.

Namun musim hujan mengubah segalanya. Sepi pembeli memaksanya mencari jalan lain.

“Masuk musim hujan, kopi sepi. Akhirnya kenal orang pasar, terus kerja di sana, jadi kurir sayur,” ujarnya saat dihubungi tim Jagad Tani via telepon, Kamis siang (16/04).

Dari rutinitas mengantar sayur selama dua bulan, Hilman mulai melihat peluang. Ia belajar memahami ritme pasar, kebutuhan pembeli, hingga alur distribusi. Pengalaman singkat itu cukup untuk membuatnya mengambil langkah berani: membuka usaha sendiri.

Pada Januari 2025, lahirlah Depot Sayur Sejahtera yang berlokasi di daerah Manahan.

"(Foto: Hilman Ramadhon)"
 

Awal usaha ini jauh dari kata mulus. Hilman memulainya hanya berdua dengan seorang rekan yang memberinya modal awal. Mereka sempat membuka toko fisik dengan target pasar rumah tangga. Namun realitas tak selalu sesuai rencana.

“Jalan sekitar delapan bulan, ternyata nggak berjalan. Akhirnya aku tutup tokonya,” kata Hilman.

Keputusan besar pun diambil, berpisah dari rekan usaha dan memulai ulang sendirian. Modal dikembalikan, konsep dirombak, dan strategi diganti total.

Hilman pun beralih ke sistem online, langkah yang justru menjadi titik balik. Ia menerapkan sistem pre-order, bagi pelanggan yang sudah memesan di malam hari, pesanan akan langsung dikirim pagi harinya setelah ia berbelanja langsung di pasar subuh.

Hasilnya? Lebih efisien, minim risiko, tanpa stok terbuang.

Bukan Sekadar Sayur

Meski namanya Depot Sayur, Hilman justru tidak membatasi dagangannya pada komoditas sayuran saja. Ia juga menyediakan sembako, telur, daging, hingga produk beku.

Pelanggannya pun bukan hanya ibu rumah tangga, melainkan restoran-restoran dan cafe yang memesan dalam jumlah besar. Salah satu produk sayuran yang paling banyak dipesan di tempatnya adalah gambas atau oyong.

“Bisa sampai 15 kilo per hari,” katanya.

Dengan sistem suplai yang stabil dan pelanggan tetap, usahanya kini berjalan lebih terarah, dengan tim yang berisi dua orang.

Meski tampil berjualan sebagai anak punk. Namun ia tidak terlalu memikirkan hal tersebut, dan justru di situlah kekuatan ceritanya. Ia tidak mencoba mengubah identitasnya agar diterima, melainkan membuktikan bahwa kerja keras tidak ditentukan oleh penampilan.

“Paling orang ketawa aja. Tapi ya kita nggak ngerugiin siapa-siapa,” ujarnya santai.

Baginya, menjadi punk bukan sekadar gaya, tapi juga soal prinsip hidup, terutama soal kebebasan.

“Saya nggak mau terikat birokrasi. Selama bisa jalan sendiri dan nggak merugikan orang, ya jalanin aja,” tegasnya.

Filosofi Jalanan yang Menjadi Pondasi Usaha

Pengalaman hidup di jalanan membentuk cara pandang Hilman terhadap usaha. Ia terbiasa menghadapi ketidakpastian, sehingga tidak takut mengambil risiko.

Modal terbesarnya bukan uang, melainkan keberanian.

“Aku ke sini nggak punya apa-apa. Tapi karena aku pengen kerja, ya aku lakuin. Nanti juga dipertemukan sama jalannya,” katanya.

Pesan dan prinsip yang ia pegang sederhana, yakni jangan malu, jangan takut gagal, dan berani mencoba hal yang bahkan terasa paling menakutkan.

Di balik aktivitas jualannya, Hilman membawa misi yang lebih luas, yakni ingin mengubah cara pandang orang terhadap pasar tradisional. Ia ingin lebih banyak orang bangga berbelanja ke pasar tradisional, sekaligus membantu para pelaku di dalamnya.

"Setiap hari, saya keliling ke pasar tradisional ke lapak yang sepi pembeli, sayur-sayur itu dipilih dan dibeli, dan dipastikan kualitasnya tetap segar," terangnya.

Bagi Hilman, kesuksesan bukan hanya soal keuntungan pribadi. Ia ingin usahanya membawa dampak bagi orang-orang di sekitarnya.

“Intinya sejahtera bareng-bareng,” pungkasnya.

Dari jalanan Jakarta Selatan hingga pasar-pasar di kota Solo, perjalanan Hilman Ramadhon menjadi bukti bahwa peluang bisa datang dari mana saja, bahkan dari tempat yang tak pernah kita duga.

Dan mungkin, di antara riuhnya tawar-menawar di pasar sayur setiap pagi, ada satu hal yang pasti, yakni keberanian untuk memulai seringkali lebih berharga daripada rencana yang sempurna.

Related News