• 19 April 2026

Tradisi Songkran, Festival Air Thailand yang Mendunia

uploads/news/2026/04/tradisi-songkran-festival-air-85162c595537e3c.jpeg

Jagad Tani - Di setiap pertengahan April, ada sebuah festival yang membuat jalanan di Thailand berubah menjadi ruang publik yang tumpah ruah, dan penuh keriuhan dengan percikan air.

Festival ini dinamakan Songkran, perayaan tahun baru tradisional, sekaligus penanda berakhirnya musim panen, yang kini dikenal sebagai salah satu festival air terbesar di dunia.

Baca juga: Depot Sayur Sejahtera, dari Punk ke Pangan

Perayaanya digelar tiap tahun pada tanggal 13-15 April. Namun di balik kemeriahan itu, Songkran menyimpan sejarah panjang yang berakar dari tradisi spiritual, sekaligus menghadapi tantangan modern yang terus menjadi perhatian otoritas setempat.

Mengutip Bangkok Post, Juru bicara Pemerintah Thailand, Rachada Dhnadirek, menyatakan jika perayaan Songkran yang digelar merupakan bagian dari warisan budaya Thailand dan tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda masyarakat dunia oleh UNESCO.

Secara etimologis, kata Songkran berasal dari bahasa Sanskerta Sankranti, yang berarti perpindahan atau perubahan posisi matahari dari satu rasi bintang ke rasi bintang berikutnya. Dalam tradisi lama yang dipengaruhi budaya Hindu-Buddha, momen ini menandai awal tahun baru.

Dalam laporan BBC, beberapa cendekiawan percaya bahwa festival ini berasal dari festival Hindu kuno yang disebut Makar Sankranti dan diadopsi oleh Kekaisaran Khmer yang memerintah Thailand pada abad ke-11 Masehi.

Perayaan Songkran awalnya berfokus pada ritual spiritual seperti membersihkan patung Buddha di kuil, menuangkan air secara simbolis ke tangan orang tua, serta doa bersama untuk keberkahan tahun baru.

Adapun fungsi air dalam konteks perayaan ini sebetulnya bukan hanya sekadar permainan, tetapi menjadi simbol penyucian diri dari hal buruk di masa lalu dan menandai awal yang baik untuk kedepannya.

Namun transformasi dan perubahan besar terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Songkran berkembang dari ritual keluarga menjadi festival publik berskala besar yang menarik wisatawan internasional.

Di kota-kota seperti Bangkok dan Chiang Mai, jalanan berubah menjadi arena perang air massal. Ember, pistol air, dan musik jalanan menjadi bagian tak terpisahkan dari suasana perayaan.

Dalam laporan media internasional seperti Reuters, lonjakan wisatawan selama Songkran menjadikannya salah satu periode pariwisata tersibuk di Thailand, dengan dampak ekonomi yang massif bagi sektor lokal.

Akan tetapi, di balik kemeriahan itu, Songkran juga menyimpan catatan kelam yang berulang hampir setiap tahun. Otoritas Thailand bahkan menyebut periode ini sebagai Seven Dangerous Days karena tingginya angka kecelakaan lalu lintas, akibat padatnya kendaraan, pengaruh alkohol, hingga akibat kelelahan saat mengemudi.

Tercatat, dalam laporan News.com.au, ada sebanyak 951 kecelakaan dan 911 orang mengalami luka-luka selama periode awal festival. Pada hari Senin (13/04), otoritas setempat mencatat 237 kecelakaan di berbagai wilayah Thailand dan mengakibatkan 51 korban jiwa dan 224 individu terluka.

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan Thailand turut memperkirakan ada sekitar 10,65 juta kendaraan yang akan masuk dan keluar Kota Bangkok selama 10-19 April.

Pemerintah Thailand secara rutin menggelar kampanye keselamatan bertajuk "Drive Safely, Reduce Speed, Prevent Accidents" yang dijadwalkan berlangsung mulai 10 hingga 16 April, untuk menekan jumlah korban, termasuk peningkatan patroli jalan dan edukasi publik menjelang festival.

Selain kecelakaan lalu lintas, beberapa insiden lain seperti cedera akibat kerumunan dan permainan air yang berlebihan juga kerap terjadi di pusat-pusat perayaan.

Meski terlihat seperti festival hiburan, banyak keluarga di Thailand yang masih mempertahankan sisi tradisional Songkran. Ritual Rod Nam Dam Hua, yakni menuangkan air wangi ke tangan orang tua atau sesepuh sebagai tanda hormat, masih tetap dilakukan di banyak daerah.

Bahkan selama festival tersebut, air wangi juga dituangkan di atas patung Buddha, sebagai lambang pembaharuan, membasuh tangan orang tua dan meminta berkah, memercikkan air ke keluarga dan teman, serta memberikan persembahan ke kuil.

Walaupun saat ini tradisi Songkran ada sedikit pergeseran budaya, namun esensi Songkran bukanlah sekadar permainan air, melainkan refleksi tentang pembaruan diri, penghormatan pada keluarga, dan kesadaran akan kehidupan yang lebih bersih, baik secara fisik maupun spiritual.

 

Related News