Bioreaktor Biodiesel B50, untuk Alsintan Disiapkan
Jagad Tani - Pemanfaatan energi terbarukan di sektor pertanian melalui pengembangan biodiesel dan pengujiannya pada alat dan mesin pertanian (alsintan) menjadi bagian dari inovasi untuk mendorong kemandirian energi berbasis sumber daya domestik dan modernisasi pertanian.
Teknologi bioreaktor biodiesel hybrid menjadi salah satu inovasi yang dikembangkan oleh Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), untuk mengolah berbagai bahan baku minyak nabati menjadi biodiesel secara lebih efisien, fleksibel, dan terkontrol.
Baca juga: Peternakan Sapi Terbesar Indonesia, Bakal Dibangun Djarum
Pengembangan biofuel menurut Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Sebab ada sebanyak 5,3 juta ton CPO bisa dikonversi menjadi biofuel, sehingga tahun ini tidak perlu lagi untuk mengimpor solar.
Hal tersebut menegaskan jika percepatan pemanfaatan biodiesel, melalui program B50 menjadi bagian penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.
Sementara itu, menurut Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Fadjry Djufry, pengembangan teknologi bioenergi merupakan bagian dari upaya mendorong hilirisasi inovasi pertanian.
“Kami mendorong pengembangan bioreaktor biodiesel yang mampu menghasilkan bahan bakar secara efisien dengan kualitas yang stabil. Dengan demikian, biodiesel yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk pada operasional alat dan mesin pertanian,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (20/04).
Bahkan BRMP melalui Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian (BRMP Mektan) sudah melakukan uji kinerja lapangan alsintan berbahan bakar B50 yang bekerja sama dengan LEMIGAS pada awal April lalu.
Adapun Kepala BRMP Mektan, Arief Rachman, menjelaskan bahwa pengujian ini dilakukan untuk memastikan kesiapan teknis penggunaan biodiesel dalam kondisi operasional nyata.
“Pengujian ini bertujuan untuk mengevaluasi performa alsintan, mulai dari keandalan mesin, efisiensi bahan bakar, hingga stabilitas operasional di lapangan. Hasilnya akan menjadi dasar dalam pengembangan mekanisasi pertanian berbasis energi alternatif, sejalan dengan dukungan terhadap program B50,” jelasnya.
Pengujian dilakukan pada berbagai jenis alsintan, seperti traktor roda dua, traktor roda empat, serta pompa air, termasuk pengujian cold-startability untuk memastikan mesin tetap dapat beroperasi setelah periode penyimpanan tertentu.
Hasil pengujian di laboratorium dan di lapangan, menunjukkan kinerja penggunaan biodiesel B50 relatif stabil. Parameter utama seperti daya, konsumsi bahan bakar, efisiensi kerja, serta performa operasional telah memenuhi standar SNI. Biodiesel B50 dinilai berpotensi untuk diterapkan pada alsintan tanpa memberikan dampak negatif terhadap performa maupun operasional.

