Indonesia Ekspor 459 Ton Durian ke Tiongkok
Jagad Tani - Setelah melewati proses yang panjang, akhirnya sebanyak 459 ton durian asal Sulawesi Tengah dengan nilai Rp42,5 Miliar berhasil di ekspor ke Tiongkok.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Sahat M Panggabean, proses panjang ini membuahkan hasil setelah ditandatanganinya naskah Protokol Ekspor Durian Beku asal Indonesia tujuan Tiongkok pada 25 Mei 2025 silam, dan pada Desember 2025 Indonesia perdana mengekspor durian beku langsung ke Tiongkok.
Baca juga: Pengawasan Minyakita Diperketat Guna Kestabilan Harga
Akses ekspor durian dari Indonesia ke Tiongkok, memangkas waktu logistik. Jika sebelumnya 56 hari menjadi 22-26 hari sampai Tiongkok, ini memangkas biaya logistik hingga 2 kali lipat, dan mendukung flowcash pelaku usaha serta mendukung proses produksi bagi eksportir.
“Keberhasilan ekspor durian menembus pasar Tiongkok adalah buah dari kerja keras dan kolaborasi kita semua. Sampai hari ini sudah 151 kontainer di berangkatkan ke Tiongkok dengan nilai ekonomi Rp377,5 milyar,” ujar Sahat.
Sebelum adanya akses langsung ke Tiongkok, durian beku Indonesia ini di ekspor melalui negara lain seperti Vietnam, Thailand dan Malaysia. Eksportir durian Indonesia hanya memasok ke pasar negara-negara tetangga, yang kemudian diolah dan dikemas ulang untuk diekspor ke Tiongkok.
Permintaan durian di Tiongkok mencapai USD 8 Miliar atau sekitar Rp128 triliun per tahun. Varietas unggulan seperti Bawor, Super Tembaga, dan Namlung. Indonesia optimis mampu merebut 5-10% pangsa pasar, dengan potensi devisa Rp6,4 triliun hingga Rp12,8 triliun per tahun.
Durian beku (Durio zibethinus) berasal dari buah durian segar dan matang yang ditanam di Indonesia, adapun yang dapat diekspor sesuai protokol karantina yakni berupa daging buah durian (pulp), durian pasta (puree), dan buah durian utuh (whole durian).
Setelah diproses menjadi pulp, puree atau whole durian, selanjutnya dibekukan pada suhu -30°C atau lebih rendah menggunakan proses pembekuan cepat (Quick freezing process) yang sesuai dan dipertahankan pada suhu inti -18°C atau lebih rendah.
Durian beku yang diekspor harus dipilih secara manual untuk menghilangkan buah yang busuk dan rusak serta memastikan buah bebas dari benda asing (foreign materials).
Sementara itu, Kepala Karantina Sulawesi Tengah, Alfian menuturkan 7 dari 8 perusahaan rumah pengemasan durian beku yang telah memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai Intalasi Karantina Tumbuhan (IKT) dan teregistrasi di sistem China Import Food Enterprise Registration berada di wilayah layanan Karantina Sulawesi Tengah.
Pada tahun 2026, menjadi awal dari keberhasilan ekspor langsung durian beku ke Tiongkok. Dari sertifikasi Barantin yang tercatat dalam sistem BEST TRUST, tercatat bahwa pada periode tahun 2026 dari bulan Januari hingga April saat ini telah di ekspor durian beku ke Tiongkok sebanyak 4.077 ton dengan nilai ekonomi Rp377,5 miliar.
Berdasarkan data dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tengah per Januari 2025, total jumlah pohon durian di Sulawesi Tengah mencapai sekitar 3,7 juta pohon dengan populasi pohon produktif (menghasilkan) sejumlah 1,2 juta pohon dan pohon belum produktif sejumlah 2,2 juta pohon.
Untuk potensi hasil produksi durian, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah, pada tahun 2025 ada sebanyak 95.140 ton tersebar di seluruh Kabupaten/Kota dengan dominasi sentra durian terbanyak pada wilayah Kabupaten Poso dan Parigi Moutong.
Adapun jumlah permintaan durian ke Tiongkok mencapai US$ 8 miliar atau sekitar Rp128 triliun per tahun. Dengan Bawor, Super Tembaga (Kalamunting), dan Namlung (Sitokong/Petruk) yang memiliki karena rasanya yang manis, legit, serta memiliki aroma kuat yang diminati pasar Tiongkok, sehingga Indonesia optimistis dapat merebut 5–10% pangsa pasar.
Jika target tersebut tercapai, potensi devisa yang akan masuk berkisar Rp 6,4 triliun hingga Rp12,8 triliun per tahun.
"Ekspor langsung ke Tiongkok selain memangkas biaya logistik, juga saat ini, harga durian di Cina tercatat 5–7 kali lipat lebih tinggi dibandingkan harga lokal, memberikan peluang keuntungan besar bagi petani dan eksportir", tukas Alfian.

