• 24 April 2026

Transformasi Petani dari Semprot Manual ke Modern

Jagad Tani - Di lereng kaki Gunung Gede-Pangrango, kehidupan bertani sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat. Salah satunya adalah Isan, petani sayuran yang telah mengenal dunia pertanian sejak usia dini.

Ia mulai belajar bertani sejak duduk di bangku kelas 5 SD, mengikuti jejak orang tuanya yang juga berprofesi sebagai petani. “Dari kecil sudah diajarin orang tua. Di sini hampir semua orang bertani,” ujarnya kepada Jagad Tani.

Baca juga: Bioreaktor Biodiesel B50, untuk Alsintan Disiapkan

Kini, Isan menanam berbagai komoditas sayuran seperti brokoli, wortel, daun bawang, hingga talas yang menjadi salah satu andalan barunya. Dalam perjalanannya, ia merasakan dinamika bertani mulai dari harga pasar yang fluktuatif hingga tantangan cuaca dan serangan hama.

Namun, perubahan paling signifikan yang ia rasakan bukan hanya pada komoditas, melainkan pada cara bertani itu sendiri, khususnya dalam penggunaan alat pertanian seperti alat penyemprot tanaman dan hama.

"Lokasi tempat Isan biasa menggarap berbagai jenis sayuran dan talas, di lereng kaki Gunung Gede-Pangrango, di desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. (Foto: Jagad Tani/Andika Dwinata)"
 

Dari Cara Manual yang Melelahkan

Bertahun-tahun Isan mengandalkan alat semprot manual untuk menyiram tanaman dan mengendalikan hama. Alat tersebut mengharuskannya memompa secara terus-menerus agar tekanan air tetap keluar.

“Kalau manual itu pegal. Harus dipompa terus. Tangan sama pinggang capek, apalagi kalau habis beberapa jeriken,” jelasnya.

Selain menguras tenaga, alat manual juga dinilai kurang efisien. Semprotan air tidak merata dan jangkauannya terbatas, sehingga Isan harus berpindah dari satu titik ke titik lain untuk memastikan seluruh tanaman terjangkau.

“Airnya nggak stabil, kecil semburannya. Jadi makan waktu juga,” tambahnya.

Beralih ke Alat Semprot Modern

Perbedaan mulai terasa ketika Isan mencoba untuk menggunakan alat semprot modern berbasis mesin, yaitu YASUKA 3WF3 dengan kapasitas mesin 41,5 cc dan menggunakan tenaga mesin 2 tak.

"Tampak Isan sedang melakukan penyemprotan (Foto: Jagad Tani/Andika Dwinata)"
 

Alat penyemprotan multifungsi ini memiliki fungsi utama sebagai semprotan cair dan kedua untuk semprotan butiran padat. Mengenai kapasitas tabung dan tangkinya tersedia dua pilihan ukuran, mulai dari 14 liter dan 20 liter.

Selain memiliki desain ergonomis dari YASUKA 3WF3, alat ini memiliki sebaran bahan semprotan yang lebih luas dan efektif, bahkan jangkauan semprotan mencapai lebih dari 12 meter.

Menurut Isan, penggunaan alat ini bisa membawa perbedaan besar dalam aktivitas bertani.

“Sekarang lebih praktis. Nggak perlu pompa lagi. Tinggal tarik mesin, langsung bisa nyemprot. Jaraknya juga jauh, kalau misalkan kita malas jalan, bisa diem di satu tempat,” katanya.

Dengan semprotan yang lebih kuat dan merata, pekerjaan yang sebelumnya memakan waktu kini dapat diselesaikan lebih cepat. Bahkan, ia tidak lagi harus berjalan menyusuri setiap baris tanaman.

“Kalau satu petak sekarang cepat. Nggak makan waktu dan tenaga, tinggal semprot-semprotin aja. Tinggal diarahin aja. Misalkan kita diem di sini, semprotin ke sana kan nyampe. Kanan-kiri nyampe, jauh lah jaraknya enak,” ujarnya.

Tak hanya dari sisi efisiensi, Isan juga menyebutkan jika hasil penyemprotan yang lebih merata itu dapat membuat pengendalian hama menjadi lebih efektif, sehingga nantinya bisa berdampak positif terhadap kualitas hasil panen. 

“Terus dengan semprotannya (yang) semakin merata. Berarti kan jadi nanti hasil sayurannya jadi lebih bagus. Kalau hamanya mati semua, ya hasil sayurannya pasti lebih bagus,” jelasnya.

"Isan sedang melakukan perawatan dan pengecekan rutinan untuk memastikan tanaman dalam kondisi sehat. (Foto: Jagad Tani/Andika Dwinata)"
 

Harapan Menuju Pertanian Modern

Isan berharap transformasi yang ia alami dapat diikuti oleh petani lain di daerahnya. Menurutnya, penggunaan teknologi modern seperti alat semprotan multifungsi YASUKA 3WF3 dapat meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi beban kerja petani.

“Harapannya petani lain juga ikut pakai, saya udah pakai ini. Mudah-mudahan yang lain ikut juga beli. Soalnya lebih enak, nggak capek, dan lebih modern,” ujarnya.

Ia melihat bahwa perlahan pola pikir petani mulai berubah, dari cara tradisional menuju metode yang lebih praktis dan efisien.

“Sekarang petani kan juga mau yang instan. Karena kan ini udah nggak pakai pompa (manual), tinggal tarik mesin, ada pengaturan angin sama gas. (Bisa nyemprot) jarak jauh, enak. Seperti petani modern, nggak kayak dulu," pungkasnya. 

Transformasi Isan dari penggunaan alat manual ke mesin semprot yang modern, menjadi langkah kecil dalam membuka jalan untuk menuju pertanian yang lebih efisien. Di mana teknologi sederhana dapat membawa perubahan besar dalam sektor pertanian.

Related News