• 24 April 2026

Antisipasi El-Nino, 16 Provinsi Tanam Padi Serentak

uploads/news/2026/04/antisipasi-el-nino-16-provinsi-639838f437cf053.png

Jagad Tani - Gerakan Tanam Padi Serentak serentak dilaksanakan di 16 provinsi, dan secara daring dimpimpin oleh Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono, di lokasi Cetak Sawah Rakyat (CSR) di Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batang Hari, Jambi. 

Sudaryono mengatakan jika percepatan tanam menjadi langkah antisipasi terhadap dampak perubahan iklim, terutama ancaman El Nino yang berpotensi mengganggu produksi pangan, dan bergerak cepat untuk meningkatkan produksi pangan pada sisa musim hujan.

Baca juga: Demi Kelancaran Pengiriman, Petenak Harus Perhatikan Ini

“Sekarang momen yang tepat. Mumpung masih ada hujan, kita percepat tanam. Kalau tanam lebih cepat, panen juga lebih cepat. Semakin banyak yang ditanam, semakin besar hasil panen kita,” ungkapnya.

Percepatan tanam ini juga dilakukan untuk memastikan lahan yang telah dicetak melalui program CSR dapat langsung produktif dan memberikan hasil nyata bagi peningkatan produksi.

Menurutnya, kunci keberhasilan CSR bukan hanya pada pencetakan lahan, tetapi memastikan lahan tersebut langsung dimanfaatkan dengan menurunkan penyuluh, Brigade Pangan, serta dukungan alat dan mesin pertanian agar proses tanam berjalan cepat dan efisien.

Di lapangan, tanam dilakukan secara serempak dengan memanfaatkan mekanisasi seperti rice transplanter dan drone. Pendekatan ini menjadi bagian dari modernisasi pertanian sekaligus menjawab tantangan keterbatasan tenaga kerja.

“Pemanfaatan alat dan mesin pertanian harus dimaksimalkan agar proses tanam lebih cepat dan efisien. Dengan dukungan penyuluh serta keterlibatan petani dan Brigade Pangan,” ujar Wamentan yang juga Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) ini.

Selain itu, dukungan sumber daya air guna menghadapi potensi kekeringan akibat El Nino, maka seluruh sumber air diidentifikasi dan dimanfaatkan untuk memastikan keberlanjutan pertanaman di lahan CSR.

“Kita identifikasi sumber air, siapkan pompa, sumur bor, dan manfaatkan air sungai agar lahan yang sudah dicetak tetap bisa ditanami,” paparnya.

Secara nasional, Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) dilaksanakan di 19 provinsi dan ditargetkan seluruh lahan yang telah dicetak segera masuk siklus tanam guna memperkuat produksi padi secara berkelanjutan.

Program CSR di Jambi menjadi bagian dari strategi percepatan perluasan lahan produktif nasional. Sudaryono membuka ruang bagi petani di daerah untuk menyampaikan kebutuhan di lapangan, mulai dari benih hingga alsintan, guna memastikan proses tanam berjalan optimal.

Dalam kegiatan tersebut, Wamentan Sudaryono bersama para petani dan generasi muda yang tergabung dalam ‘Brigade Pangan’ melakukan penanaman massal menggunakan teknologi pertanian modern, seperti alat rice transplanter hingga drone penabur benih/pupuk.

Sementara itu, Gubernur Jambi Al Haris memaparkan kondisi pertanian di daerahnya. Saat ini, luas lahan baku sawah di Jambi mencapai 69.000 hektare, dengan lahan eksisting sekitar 54.000 hektare.

Pada tahun 2025, program CSR telah menanam sekitar 1.200 hektare, dan pada 2026 ditargetkan meningkat menjadi 4.100 hektare. Namun produksi padi di Jambi saat ini baru mampu memenuhi sekitar 71% kebutuhan konsumsi daerah, sehingga masih terdapat kekurangan sekitar 29% untuk mencapai swasembada.

“Kami terus mendorong peningkatan luas tanam dan produksi. Salah satunya dengan mengubah pola pikir petani agar tidak hanya tanam sekali setahun, tetapi bisa dua hingga tiga kali,” ujar Al Haris.

Ia optimistis, melalui pembangunan irigasi dan bantuan sarana pertanian, Jambi mampu mencapai swasembada padi pada tahun 2026. Tak hanya itu, Al Haris juga mengusulkan tambahan infrastruktur penunjang, seperti pembangunan irigasi, jalan usaha tani, hingga mesin pengering padi, khususnya di wilayah Tanjung Jabung Timur.

“Kami siap mendukung ketahanan pangan nasional menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.

Related News