Gastronomi Menjadi Pintu Gerbang Pariwisata Bumi Nusantara
Jagad Tani - Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di bidang gastronomi (seni menyiapkan hidangan yang lezat-lezat), khususnya soal kehigienisan pengelolaan makanan, menjadi fondasi penting dalam membangun daya saing pariwisata.
Menurut Asisten Deputi Bidang Manajemen Strategis Kementerian Pariwisata (Kemenpar), I Gusti Ayu Dewi Hendriyani, penguatan SDM jadi elemen krusial pengembangan gastronomi, karena sektor ini berkontribusi besar terhadap pengalaman wisatawan dan reputasi destinasi.
Baca juga: Puan Ingatkan Soal Mitigasi Kenaikan Minyak Goreng-BBM
“Kompetensi penjamah makanan atau food handler competency merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap keamanan pangan di restoran, street food, maupun hotel. Oleh karena itu, pelatihan terkait higiene personal, sanitasi fasilitas, serta penanganan makanan yang aman harus menjadi prioritas utama,” kata Dewi dalam rilisannya sikutip Jumat (24/04).
Selain aspek keamanan pangan, Dewi melanjutkan bahwa SDM gastronomi juga perlu dibekali pemahaman tentang keberlanjutan dari transformasi industri hospitality global.
Pendekatan berkelanjutan ini dinilai tidak hanya berfokus pada penggunaan bahan lokal, tetapi juga mencakup efisiensi energi, pengelolaan limbah, pengurangan food waste, serta penerapan praktik ramah lingkungan.
“Di Indonesia, prinsip ini sejalan dengan arah pembangunan nasional yang mendorong konsep green gastronomy di restoran, pasar kuliner, dan destinasi wisata,” terangnya.
Integrasi antara higienitas dan keberlanjutan akan menghasilkan produk kuliner yang tidak hanya aman, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Penguatan SDM berbasis higienitas dan keberlanjutan, kata Dewi, mampu memberi dampak bagi ekosistem gastronomi. Sebab SDM yang kompeten akan mendorong daya saing global serta menghadirkan pengalaman kuliner yang aman, autentik, dan berstandar internasional.
“Melalui pelatihan berkelanjutan dan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, serta industri, Indonesia dapat mengembangkan destinasi gastronomi yang unggul dari sisi higienitas, ramah lingkungan, dan mencerminkan identitas kuliner nasional,” ujarnya.
Menyoal peran perempuan dalam pariwisata, Dewi menilai, besarnya kontribusi perempuan dalam menggerakkan sektor ini, hal tersebut tercermin dari dominasi perempuan dalam pasar wisata global dimana sekitar 64% wisatawan dunia adalah perempuan.
Dari sisi tenaga kerja perempuan menyumbang sekitar 54% tenaga kerja pariwisata global dan 54,5% di Indonesia, dan sekitar 64% UMKM termasuk di sektor kuliner dan pariwisata, yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam ekosistem pariwisata.
Sementara itu, Staf Ahli Menteri Bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi, Kurleni Ukar menyampaikan bahwa perempuan menjadi fondasi utama, penggerak sektor, menjaga pengetahuan lokal, dan menopang keberlanjutan dari hulu hingga hilir dalam ekosistem pariwisata.
“Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat peran tersebut hingga mendorong pengembangan pariwisata gastronomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak luas.” pungkas Kurleni.

