• 26 April 2026

Strategi Memutus Rantai Jebakan Finansial Pertanian

uploads/news/2026/04/strategi-memutus-rantai-jebakan-22895c7dae109e5.jpg

Jagad Tani - Walaupun menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, porsi kredit perbankan ke sektor pertanian Indonesia justru stagnan di angka 6-7%, dan masih terjebak dalam Indonesia agricultural finance trap, yang menjadi perangkap struktural petani.

Melansir dari laman IPB University, Prof Dwi Rachmina, selaku Guru Besar Tetap Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, memaparkan soal urgensi transformasi pembiayaan berbasis rantai nilai.

Baca juga: Gastronomi Menjadi Pintu Gerbang Pariwisata Bumi Nusantara

Menurutnya hambatan utama aliran modal ke petani kecil adalah risiko produksi yang tinggi dan sistem agunan yang kaku. Sebagai solusi, ia mengenalkan model Value Chain-Based Agricultural Finance Transformation. Model ini menggeser paradigma pembiayaan dari berbasis individu menjadi berbasis hubungan ekonomi antarpelaku dalam ekosistem agribisnis.

Dilanjutkan jika efektivitas model ini sangat bergantung pada komitmen seluruh pemangku kepentingan. Berdasarkan kajiannya, model rantai nilai ini mampu meningkatkan akses petani terhadap pembiayaan sekitar 30-40%. Salah satu terobosan yang ditawarkan adalah penggunaan kontrak sebagai pengganti agunan fisik.

“Agunannya bukan berupa fisik, tapi kontrak purchase guarantee (PG). Di sinilah rantai nilai berperan meningkatkan kepercayaan bank terhadap petani terkait pengembalian dana,” jelasnya.

Sehingga, dengan adanya kontrak kepastian pembeli tersebut, lembaga keuangan formal memiliki dasar yang lebih kuat untuk menyalurkan kredit. Selain itu, digitalisasi ekosistem agribisnis dinilai sebagai bagian penting dalam mencapai transformasi ini.

Dwi juga menggarisbawahi bahwa teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan kelembagaan di tingkat dasar.

“Implementasinya perlu didukung dengan ekosistem lain seperti penguatan kelembagaan petani, termasuk meningkatkan kemampuan literasi digital. Proses ini tidak bisa instan,” paparnya.

Agenda kebijakan yang berfokus pada digitalisasi, inovasi instrumen keuangan, dan penguatan manajemen risiko, transformasi ini diharapkan menjadi fondasi bagi pembangunan agribisnis yang efisien dan inklusif.

Sehingga integrasi antara sistem keuangan dan rantai nilai diharapkan dapat memutus rantai “Indonesia agricultural finance trap” yang selama ini menghambat produktivitas petani kecil di perdesaan. 

Related News