• 26 April 2026

Menyemai Pangan Urban, Lewat Sekolah Tani Kota

uploads/news/2026/04/menyemai-pangan-urban-lewat-704836f9c1275b9.jpeg

Jagad Tani - Pada Sabtu sore (25/04), suasana di Gudskul Ekosistem terasa berbeda dari biasanya, sebab kegiatan yang dilakukan, bukan hanya sekadar diskusi seni atau presentasi komunitas, melainkan sebuah penanda dimulainya babak baru untuk pembukaan Sekolah Tani Kota.

Gudskul yang selama ini dikenal sebagai laboratorium praktik kolektif seni, yang dibentuk oleh tiga kelompok seni di Jakarta: ruangrupa, Serrum, dan Grafis Huru Hara (GHH), justru membawa cerita soal perjalanan panjang tentang kolaborasi, dan harapan bagi masa depan pangan di kota.

Baca juga: Depot Sayur Sejahtera, dari Punk ke Pangan

Indra Ameng, selaku perwakilan dari Ruangrupa menjelaskan jika momen ini merupakan hasil dari proses yang tidak singkat. Ia mengingat kembali pada tahun 2017, ketika ruangrupa menggelar OK Video Festival yang mengangkat tema pangan.

“Dari situ kami mulai terhubung dengan banyak orang dan inisiatif yang punya perhatian pada kedaulatan pangan dan keberlanjutan. Pertemuan-pertemuan itu akhirnya berkembang jadi jaringan, lalu jadi praktik,” ungkapnya di hadapan pengunjung pada pembukaan pameran Sekolah Tani Kota.

Menurutnya, fokus ruangrupa pada kehidupan urban membuat isu pangan menjadi sangat relevan. Kota bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang bagaimana warganya bertahan hidup, termasuk dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan.

Jaringan yang dimaksud Indra kemudian menemukan bentuk konkretnya di Gudskul. Di sinilah berbagai inisiatif bertemu dan saling menguatkan, termasuk komunitas seperti Selarasa Foodlab.

Dari dalam ekosistem ini, Julia Sarisetiati yang juga dari Ruangrupa, melihat bagaimana praktik-praktik kecil perlahan tumbuh menjadi gerakan yang lebih besar, termasuk bagaimana para pelaku pertanian kota mulai rutin berkumpul dalam forum bernama Majelis Sayur.

"Di Gudskul ini ada banyak inisiatif-inisiatif seniman, salah satunya dari Selarasa Foodlab, yang selama di sini jadi aktif membangun hubungan dengan praktik-praktik pertanian lokal yang ada di Gudskul. Terus mereka sering berkumpul di platform namanya Majelis Sayur itu ruang untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan berkolaborasi," jelasnya. 

Dari dinamika itu muncul kesadaran baru, bahwa praktik-praktik yang sudah berjalan bertahun-tahun ini sebenarnya menyimpan pengetahuan yang sangat kaya. Pengetahuan yang selama ini tersebar di kebun-kebun kecil, kini mulai dirangkai menjadi sesuatu yang lebih sistematis.

“Jadi terus selama beberapa bulan terakhir ini kami keliling, kunjungi kebun-kebun atau praktik-praktik pertanian ini, ngobrol bareng, terus coba tukar pikiran dan formulasikan kalau kira-kira kita bikin kurikulum pertanian kota itu bentuknya seperti apa," tambahnya.

Sementara itu, di lapangan, Juli Berskema dari Selarasa Foodlab membawa perspektif yang lebih dekat dengan keseharian petani kota. Sejak 2019, komunitasnya telah terhubung dengan puluhan petani di Jagakarsa, membangun relasi yang tidak hanya berbasis program, tetapi juga kepercayaan.

“Dari situ kami bikin Majelis Sayur, ruang musyawarah yang rutin kami jalankan tiap bulan. Kami saling kunjungi kebun, ngobrolin masalah nyata, cuaca, hama, sampai strategi bertahan,” jelasnya.

Menurut Juli, proses belajar tidak selalu harus formal. Karena itu, mereka menciptakan berbagai cara alternatif seperti Kultum atau Kuliah Tumbuhan dan tur kebun untuk warga. Tujuannya sederhana, mendekatkan masyarakat kota dengan sumber pangan mereka sendiri, sekaligus memotong rantai distribusi yang panjang.

Pengalaman bertahun-tahun itu kemudian mengerucut pada satu kebutuhan mendesak: regenerasi petani dan akses pengetahuan yang lebih luas, terutama bagi generasi muda urban.

Bahkan menurutnya, Majelis Sayur sudah banyak melakukan kerjasama, terutama dengan seniman-seniman yang ada di Gudskul, maupun yang ada di Asia, hingga Eropa.

"Misalnya kita sudah terlibat di Jakarta Biennale, ikut pameran yang di Jerman, di Kassel. Kemudian yang paling baru 2 tahun belakang kita fokus di Jepang, karena mereka juga mengalami isu yang sama soal regenerasi petani, yaitu nggak ada petani-petani muda," ucapnya.

Dari situlah Sekolah Tani Kota dirancang, sekolah ini hadir dengan dua pendekatan utama yaitu kelas singkat untuk mengembalikan ingatan anak muda tentang kursus, dan Laboratorium Petani Kota yang lebih mendalam yakni tentang bagaimana masyarakat kota bisa bertani sesuai keadaan, kondisi tantangannya di kota gitu.

“Jadi kalau kamu menanam, kalau kamu tinggal di rumah susun atau di apartemen, kamu jangan belajar permakultur. Kamu belajar bagaimana yang cocok sama tempat kamu tinggal. Jadi itu yang pengen banget kita sampaikan, supaya warga kota setidaknya punya alternatif dalam hal mengupayakan kebutuhan pangan,” kata Juli.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa bertani di kota bukan hanya soal pangan, tetapi juga soal kesehatan mental dan kualitas hidup. Di tengah tekanan urban yang semakin tinggi, aktivitas sederhana seperti menanam bisa menjadi ruang jeda yang penting.

"Harapannya sih salah satu kurikulum tadi itu bisa memenuhi kebutuhan teman-teman warga kota yang ingin menanam di tengah kesibukannya sebagai warga urban," pungkasnya. 

Pembukaan Sekolah Tani Kota ini juga ditopang oleh jejaring luas di Jagakarsa, mulai dari kebun komunitas, kelompok tani, hingga institusi pendidikan seperti SMK setempat. Semua terhubung dalam satu peta belajar yang hidup dan terus berkembang.

Semuanya terhimpun di dalam peta Sekolah Tani Kota, Majelis Sayur, Jagakarsa, Jakarta Selatan yakni meliputi: KPC Kedung Sahong, Gudskul Ekosistem, Kebun Maisa Petani, Young Sayur, Kelompok Tani Sejahtera Makmur, KTH Kumbang, Pojok Aselih, SMKN 63, Kebung Emeng, Latar Babe dan Tani Alit.

Related News