• 27 April 2026

Hasil Perkebunan Mulai Digeser ke Sektor Energi

uploads/news/2026/04/hasil-perkebunan-mulai-digeser-780070371268e0f.jpg

Jagad Tani - Untuk memperkuat kemandirian energi, hasil perkebunan seharusnya bukan lagi berbentuk bahan mentah, sehingga nilai tambah komoditas ini naik di tengah tekanan global dan ketergantungan pada energi fosil.

Menurut Andi Amran Sulaiman, selaku Menteri Pertanian (Mentan), paradigma pembangunan perkebunan harus berubah menuju pengolahan bernilai tambah tinggi. 

Baca juga: Angkut Sayur dari Dieng, 10 Tahun Mendistribusi Pangan

“Hasil perkebunan harus naik kelas. Tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk turunan bernilai tinggi, termasuk bioenergi. Ini bagian dari upaya kita memperkuat kemandirian dan kedaulatan energi nasional,” ungkap Amran dalam keterangan resminya, dikutip Senin (27/04).

Adapun sejumlah komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, tebu, jagung, dan singkong kini diarahkan menjadi tulang punggung pengembangan biofuel, baik biodiesel maupun bioetanol, guna menekan ketergantungan terhadap energi fosil.

Di sisi hulu, penguatan terus dilakukan melalui peningkatan produksi dan produktivitas, termasuk percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penyediaan sarana dan prasarana, serta pengawasan perizinan dan sertifikasi keberlanjutan seperti ISPO.

Untuk tebu, saat ini percepatan swasembada gula terus didorong sehingga mampu memenuhi kebutuhan bioetanol melalui program bongkar ratoon dan perluasan areal tanam hingga 200.000 hektare secara nasional. 

Sedangkan menurut Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan, Ali Jamil, hilirisasi ini memberikan dampak luas bagi perekonomian nasional. 

“Hilirisasi perkebunan akan menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat industri berbasis komoditas, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan pekebun. Ini menjadi kunci dalam mendorong transformasi ekonomi nasional,” ujar Ali Jamil.

Dilanjutkan bila pengembangan komoditas ke depan tidak hanya difokuskan pada kebutuhan pangan dan industri konvensional, tetapi juga diarahkan sebagai sumber bahan baku energi terbarukan yang prospektif.

“Ke depan, sinergi lintas sektor akan terus diperkuat, baik dari sisi hulu, industri pengolahan, hingga kebijakan energi. Tujuannya memastikan kesinambungan pasokan bahan baku serta optimalisasi pengembangan industri bioenergi nasional, termasuk biodiesel dari kelapa sawit dan bioetanol dari tebu,” imbuhnya.

Related News