Dalam Rentang 2015-2024, Industri Kelapa Sawit Menggeliat
Jagad Tani - Pada rentang tahun 2015–2024, kinerja kelapa sawit Indonesia menunjukkan kenaikan. Luas areal meningkat dari 11,26 juta hektare pada 2015 menjadi 16,83 juta hektare pada 2024.
Bahkan jumlah produksi minyak sawit mentah (CPO) tumbuh dari 31,07 juta ton menjadi 45,44 juta ton dalam rentang waktu tersebut.
Baca juga: Angkut Sayur dari Dieng, 10 Tahun Mendistribusi Pangan
Melansir dari Direktorat Jenderal Perkebunan, ada lebih dari 3 juta kepala keluarga menggantungkan hidupnya dari komoditas ini, dan menjadikan sawit sebagai penggerak ekonomi sekaligus sumber penghidupan masyarakat di berbagai daerah.
Bahkan pada tahun 2024 perkebunan sawit didominasi oleh perkebunan swasta sebesar 50,95%, diikuti perkebunan rakyat 40,85%, dan perkebunan besar negara 4,88%, yang menjadi penopang industri sawit nasional.
Meski kinerja tetap terjaga, tantangan masih terlihat pada aspek produktivitas yang cenderung fluktuatif. Menurut Plt Direktur Jenderal Perkebunan, Ali Jamil, peningkatan produktivitas menjadi fokus utama ke depan.
“Peremajaan sawit rakyat, penggunaan benih unggul, serta penerapan praktik budidaya yang baik dan berkelanjutan menjadi langkah strategis untuk memperkecil kesenjangan produktivitas," ujarnya melalui keterangan resminya, dikutip Senin (27/04).
Dalam konteks yang lebih luas, sektor sawit juga memegang peran strategis dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional melalui pengembangan hilirisasi.
"Di saat yang sama, penguatan hilirisasi, termasuk pengembangan biodiesel, akan mendorong daya saing dan nilai tambah industri sawit nasional,” sambungnya.
Lewat pengembangan hilirisasi, minyak sawit tidak hanya menjadi bahan baku industri pangan, tetapi juga diolah menjadi berbagai produk turunan, termasuk biodiesel.

