• 29 April 2026

Dari 11 Komoditas, Indonesia Impor 5 Persen

uploads/news/2026/04/dari-11-komoditas-indonesia-67977c80c0993d7.jpeg

Jagad Tani - Melalui diskusi bersama pengamat, akademisi, dan pers di Gudang Filial Perum Bulog, Karawang, Jawa Barat (23/04) lalu, Andi Amran Sulaiman selaku Menteri Pertanian menjelaskan capaian swasembada pangan Indonesia.

Menurutnya indikator swasembada pangan yang telah dicapai Indonesia untuk kebutuhan konsumsi, dan impor pangan pokok dalam kalkulasinya hanya sekitar 5%, hal ini tidak melampaui definisi swasembada dari The Food and Agriculture Organization (FAO).

Baca juga: Vaksin Lokal, Bebaskan Jakarta dari Rabies

"Ini 11 komoditas, yang merah ini (impor), kurang lebih 3,5 juta ton. Total produksi kita 73 juta ton. Kalau 3,5 juta ton dibagi (73 juta ton), itu 4,8 persen. (Lalu) kalau (impor) ini dibagi dengan kebutuhan (68 juta ton), itu 5 persen lebih sedikit. Definisi yang kita sepakati, swasembada pangan adalah maksimal impor 10 persen, ini konsensus FAO, dan kita 5 persen," jelas Amran.

Dalam pemaparannya, total impor 3 pangan pokok 3,5 juta ton terdiri dari kedelai 2,6 juta ton, bawang putih 600 ribu ton, dan daging ruminansia 350 ribu ton. Sementara kebutuhan konsumsi untuk 11 pangan pokok selama setahun mencapai 68,7 juta ton. Hasil perbandingan keduanya pun diperoleh 5,1%.

Adapun 11 pangan pokok itu berupa beras, jagung pakan, cabai rawit, cabai besar, daging ayam, telur ayam, bawang merah, gula konsumsi, kedelai, bawang putih, dan daging sapi/kerbau. Total produksi dalam negerinya mencapai hingga 73,7 juta ton selama setahun.

"Jadi swasembada pangan, ketahanan pangan, kemandirian pangan dalam waktu yang bersamaan, hari ini selesai. Pangan sesuai dengan Peraturan Presiden nomor 125 tahun 2022, itu ada 11 komoditas, dengan beras sebagai porsi konsumsi paling tinggi," sambungnya.

Dari total konsumsi 11 komoditas yang sejumlah 68,7 juta ton, beras berkontribusi hingga 45,2% atau 31,1 juta ton. 

Melalui catatan Bapanas, stok beras Bulog telah mengalami lonjakan dalam 2 tahun terakhir, dengan total stok lebih dari 5 juta ton per 23 April 2026, melesat hingga 264,2% dibandingkan hari yang sama 2 tahun lalu yang berjumlah 1,37 juta ton.

Selanjutnya stok 5 juta ton ini jika dibandingkan dengan 23 April tahun 2025, mengalami peningkatan sebesar 65,8%, yang berada di 3,01 juta ton. Realisasi serapan produksi dalam negeri untuk stok beras Bulog per 23 April 2026 telah berada di angka 2,31 juta ton.

Tingkat serapan Bulog tersebut telah melampaui secara drastis dalam 2 tahun terakhir. Terhadap Januari-April 2024 menjadi capaian monumental karena meroket hingga 790 persen karena realisasi saat itu hanya 259,9 ribu ton. Sementara terhadap Januari-April 2025 yang 1,78 juta ton pun meningkat cukup signifikan 29,4 persen.

"Kenapa orang mengatakan swasembada pangan identik dengan beras? Karena komposisi kalau kita makan, orang Indonesia bisa 60, 70, 80 persen, sehingga orang selalu menyampaikan pangan identik dengan beras, karena komposisinya yang lebih besar," jelas Amran.

Dalam forum yang sama, pakar ekonomi Ichsanuddin Noorsy memantik dengan menyatakan capaian stok CBP yang telah tembus lebih dari 5 juta ton hari ini merupakan penanda kemandirian pangan.

"Asta Cita mendatangkan kemandirian pangan dan energi. Kalau beras, saya sepakat mendekati kemandirian. Kita hari ini sepakat terjadi kemandirian beras," ungkap Ichsanuddin.

Capaian swasembada beras termaktub dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2025. Untuk beras sepanjang tahun 2025 tidak ada impor karena produksi setahun mencapai 34,69 juta ton telah dapat memenuhi kebutuhan konsumsi tahunan sebesar 31,16 juta ton.

Pada torehan Nilai Tukar Petani (NTP) Tanpa Perikanan secara nasional yang sejak Juli 2024, terjaga diatas 120. Indeks NTP Tanpa Perikanan yang tertinggi dalam 7 tahun terakhir tercapai di Desember 2025 dan Februari 2026 yang sama-sama berada di indeks 126,11.

 

Related News