Argo Bromo Anggrek, Kereta Bernama Unsur Alam
Jagad Tani - Insiden kecelakaan kereta api yang terjadi di wilayah Stasiun Bekasi Timur, Daerah Operasi 1 Jakarta, pada Senin (27/4/2026) malam, yang melibatkan rangkaian KRL Commuter Line tujuan Bekasi dengan kereta api (KA) jarak jauh Argo Bromo Anggrek.
Hal tersebut membuat nama kereta api Argo Bromo Anggrek mencuat ke permukaan. Bahkan melalui data yang dihimpun oleh pihak PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI, ada sekitar 14 orang korban yang meninggal dunia, dan sebanyak 82 orang luka-luka.
Baca juga: Wonosobo Berpotensi Menjadi Sentra Baru Susu Sapi
Namun dibalik dari kejadian kelam yang terjadi tersebut, KA Argo Bromo Anggrek menjadi salah satu deretan nama kereta yang memiliki unsur alam. Dalam bahasa Jawa kuno, istilah Argo memiliki arti gunung, sesuai dengan nama kereta.
KA Bromo Anggrek sendiri memang diambil dari nama Bromo, yakni sebuah gunung berapi kaldera aktif di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kabupaten Probolinggo, Malang, Pasuruan, dan Lumajang, Jawa Timur.
Sementara nama Anggrek yang disematkan di belakangnya, merupakan nama tanaman bunga asli Indonesia, dengan nama ilmiah Orchidaceae, dan merupakan kereta api penumpang eksekutif dan compartment suite dengan rute Surabaya Pasarturi-Gambir melalui lintas utara Jawa.
Kereta ini merupakan salah satu kereta api antarkota unggulan, yang diluncurkan pada 24 September 1997. Adapun untuk stasiun pemberhentian dari kereta ini meliputi Stasiun Gubeng (Surabaya, Jawa Timur), Stasiun Semarang Tawang (Jawa Tengah), Stasiun Cirebon (Jawa Barat), dan Stasiun Gambir, (DKI Jakarta).

