ASEAN Perkuat Energi Pangan Hadapi Krisis Timur Tengah
Jagad Tani - Melalui Special AEC Council Meeting on the Middle East Crisis, yang berlangsung secara daring, Rabu (30/4), Indonesia menegaskan pentingnya penguatan kerja sama kawasan, untuk menghadapi dampak krisis Timur Tengah pada ekonomi regional.
Pertemuan ini juga menjadi momentum penting bagi negara-negara ASEAN untuk merespons tekanan global yang kian meningkat, dengan memfokuskan pada sektor energi, pangan, dan rantai pasok untuk menjaga stabilitas ekonomi di kawasan.
Baca juga: Pilihan Ikan Lokal untuk Ditebar di Perairan
"Mulai dari lonjakan harga energi, gangguan rantai pasok, hingga risiko terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang juga sebagai Menteri Dewan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) Indonesia, dilansir dari laman resmi Ekon.
Dalam forum tersebut, Indonesia mendorong langkah konkret untuk memperkuat ketahanan energi kawasan, antara lain melalui diversifikasi sumber dan jalur pasokan, dan penguatan mekanisme cadangan energi.
Selain itu, percepatan implementasi kerja sama regional seperti ASEAN Power Grid (APG), ASEAN Petroleum Security Agreement (APSA), dan Trans-ASEAN Gas Pipeline (TAGP) akan dilakukan, untuk mengurangi kerentanan ASEAN terhadap guncangan eksternal.
Indonesia pun menekankan pentingnya menjaga ketahanan pangan kawasan di tengah meningkatnya biaya logistik dan harga pupuk. Optimalisasi ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve (APTERR), disertai penguatan koordinasi dan sistem respons kawasan, menjadi bagain penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, khususnya bagi kelompok rentan.
Lebih lanjut, Indonesia menyoroti pentingnya penguatan ketahanan rantai pasok kawasan melalui peningkatan konektivitas, efisiensi logistik, dan diversifikasi sumber pasokan energi, melalui pengembangan alternatif bahan bakar, dengan memaksimalkan sumber daya masing-masing negara.
“Upaya-upaya ini perlu didukung dengan penguatan fasilitasi perdagangan, termasuk optimalisasi ASEAN Single Window, guna memastikan kelancaran arus barang dan menjaga daya saing kawasan,” jelas Airlangga.
Sejalan dengan hal tersebut, para Menteri ASEAN dalam Joint Statement menegaskan komitmennya untuk memperkuat ketahanan kawasan melalui kerja sama yang lebih erat, menjaga keterbukaan dan kelancaran perdagangan, serta memastikan respons kebijakan yang terkoordinasi, guna menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi kawasan.
Adapun para Menteri Negara ASEAN lainnya yang turut serta dalam pertemuan ini yaitu Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Ma. Cristina Aldeguer-Roque; Menteri Keuangan dan Ekonomi II Brunei Darussalam Dato Dr. Amin Liew Bin Abdullah; Menteri Perdagangan Kamboja Cham Nimul.
Selain itu, ada Menteri Industri dan Perdagangan Laos Malaithong Khommasith; Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia Datuk Seri Johari Abdul Ghani; Menteri Perencanaan Nasional, Investasi, dan Relasi Ekonomi Internasional Myanmar Aung Kyaw Hoe.
Selanjutnya turut hadir pula Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Gan Kim Yong; Menteri Perdagangan dan Industri Timor Leste Filipus Nino Pereira; Wakil Menteri Perdagangan Thailand Kirida Bhaopichitr; serta Wakil Menteri Industri dan Perdagangan Vietnam Nguyen Sinh Nhat Tan.

