Strategi Tanam untuk Menghadapi El Niño dan La Niña
Jagad Tani - Kemunculan El Niño dan La Niña bisa berpotensi mempengaruhi hasil produksi komoditas pangan, khususnya di Kecamatan Lembang Jaya, Kecamatan Danau Kembar, dan Kecamatan Lembah Gumanti, Sumatera Barat.
Pasalnya, wilayah tersebut merupakan daerah penghasil kentang dan bawang merah sebagai komoditas utama.
Baca juga: ASEAN Perkuat Energi Pangan Hadapi Krisis Timur Tengah
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM), serta Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sumatera Barat, akhirnya mengkaji dampak variabilitas curah hujan terhadap tanaman kentang dan bawang merah.
Bahkan turut melakukan penyusuna strategi pola tanam yang efektif. Analisis dilakukan terhadap data curah hujan periode 2010–2023 dan perhitungan neraca air tanah.
“Kentang dan bawang merah merupakan komoditas yang dibudidayakan di Kabupaten Solok. Namun, adanya perubahan iklim menjadi faktor terhadap produksi kentang dan bawang merah,” ungkap Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA), Aris Pramudia dikutip dari BRIN sabtu (02/04).
Berdasarkan analisis neraca air tanah yang dilakukan oleh Aris dan tim risetnya, merekomendasikan pengaturan pola tanam dapat menjadi kentang-bawang merah-bawang merah pada tahun normal dan La Niña, serta bawang merah–kentang–bawang merah pada tahun El Niño.
“Strategi pengelolaan ini bertujuan untuk meningkatkan indeks pertanaman dan produksi hortikultura serta mendukung pertanian yang tangguh terhadap perubahan iklim,” lanjut Aris.
Selain itu, anomali iklim ini dinilai memberikan dampak yang berbeda, dengan pengaruh yang paling nyata terjadi pada periode curah hujan rendah. Curah hujan cenderung menurun dan berfluktuasi pada musim kemarau, sedangkan pada musim hujan relatif stabil,
Data tersebut dikumpulkan dari curah hujan, suhu udara, luas tanam, dan produksi kentang serta bawang merah. Data curah hujan yang digunakan berupa data harian periode 2011–2023, setiap kecamatan diambil tiga titik pengamatan, dan dirata-ratakan menjadi data tingkat kecamatan.
Bahkan di sisi lain, pertanian kentang dan bawang merah yang merupakan hortikultura di Sumatera Barat juga berpotensi menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Jika tidak dikelola dengan baik, maka limbah tersebut dapat menimbulkan permasalahan baru.
Menurut Aris, limbah bawang merah dan kentang memiliki potensi besar untuk mendukung prinsip zero waste melalui pemanfaatannya sebagai bahan kompos, karena memiliki kandungan organik yang tinggi pada daun dan akar.
“Seperti yang kita ketahui, kompos dari limbah bawang merah dan kentang dapat meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi kebutuhan pupuk kimia, serta mendorong praktik pertanian ramah lingkungan,” terangnya.
Adapun untuk limbah hasil budidaya dan pengolahan, keduanya mengandung senyawa fenolik bioaktif, seperti asam klorogenat pada kulit kentang dan flavonoid pada limbah bawang merah.
Limbah ini umumnya dimanfaatkan sebagai pupuk dan pakan ternak, namun pengolahan lebih lanjut menjadi produk bernilai tambah dapat mengurangi dampak lingkungan sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan.
“Kami berharap riset ini dapat mendukung swasembada pangan yang tangguh dari anomali iklim serta memberikan manfaat ekonomi tambahan bagi petani serta menjadikan Sumatera Barat sebagai model pengelolaan limbah pertanian yang dapat diterapkan di wilayah lain,” pungkasnya.

