• 3 May 2026

Bertani dari Ketinggian, Bukan di Dataran Tinggi

uploads/news/2026/05/bertani-dari-ketinggian-bukan-355657667d3db9e.jpeg

Dari kenangan seekor kucing, lahir kebun yang tumbuh di atas langit rumah.

Jagad Tani - Di sudut atap rumah bertingkat itu, angin berembus lebih kencang dari biasanya. Matahari datang tanpa kompromi menyengat penuh sejak pagi.

Tapi di sanalah berbagai tanaman bisa tumbuh dengan subur, di lantai tiga hingga empat sebuah rumah di tengah permukiman padat di Jakarta Selatan.

Baca juga: Depot Sayur Sejahtera, dari Punk ke Pangan

Bukan di lereng gunung, bukan pula di dataran tinggi yang sejuk, melainkan di ketinggian buatan alias di rooftop rumah. Pemiliknya, Lily Almasih, yang menyebutnya sebagai Kebun Emeng.

"Lily sedang memindahkan pot tanamannya yang ada di lantai tiga. (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"
 

Dari Seekor Kucing, Menjadi Nama Kebun

Sekilas nama kebun ini terdengar unik. Bukan diambil dari istilah pertanian, bukan pula nama latin dari tanaman.

“Emeng itu kucing, nama kucing anak saya,” cerita Lily saat ditemui Jagad Tani di lantai empat rumahnya di Jagakarsa.

Awalnya, ia sempat mempertimbangkan nama lain, bahkan sempat terpikir menggunakan nama anaknya sendiri. Namun sang anak menolak. Akhirnya, nama Emeng dipilih.

Sederhana, personal, dan penuh kenangan.

Kini, meski si kucing telah tiada, namanya tetap hidup dan menjadi identitas dari kebunnya yang terus bertumbuh.

Naluri Menanam yang Tak Pernah Pergi

Jauh sebelum Kebun Emeng berdiri pada tahun 2021, Lily sebenarnya sudah memiliki hobi menanam sejak lama, bahkan sejak masa gadis.

“Dari dulu saya senang nanam. Nggak tahu kenapa,” ujarnya.

Hobinya mengikuti ke mana pun ia pindah. Dari kontrakan di Cibitung, rumah di Cikarang, hingga sempat menetap di Bandung, selalu ada tanaman yang ikut tumbuh bersamanya.

Bahkan di lahan sempit sekalipun.

“Saya tuh nggak bisa lihat tanah kosong dikit aja. Pasti pengen ditanemin,” ucapnya.

Dari bunga mawar, pohon pepaya, hingga stroberi di udara dingin Bandung, semua pernah ia coba. Hingga akhirnya, minatnya bergeser ke tanaman yang bisa dikonsumsi, yakni sayur dan buah.

"Tanaman seledri menghiasi salah satu pojok Kebun Emeng. (Foto:Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"
 

Dari Tanah ke Atap Rumah

Perjalanan berkebun Lily terus dibawa, bahkan ketika sudah berpindah rumah di Jakarta, sampai pada titik ketika ia memutuskan untuk naik level secara harfiah, dengan rooftop sebagai solusi.

Awalnya hanya di lantai tiga. Lalu berkembang ke lantai empat.

“Yang penting punya di rumah sendiri,” katanya.

Namun bertani di ketinggian membawa tantangan baru, mulai dari angin kencang, panas ekstrem, dan risiko tanaman roboh. Ia bahkan pernah mengalami pohon tumbang dari lantai atas.

“Saya sampai kaget, karena mengenai atap tetangga. Untung orangnya baik dan tidak marah, tapi saya betulkan dan saya rapihkan,” ujarnya.

Sejak saat itu, ia mulai memasang tembok pengaman dan menata ulang strategi tanamnya.

Bertani di Ketinggian: Bukan Soal Tempat, Tapi Strategi

Berbeda dengan dataran tinggi yang identik dengan suhu sejuk, rooftop justru menghadirkan kondisi ekstrem, mulai dari kondisi panas yang menyengat ala Jakarta, hingga minimnya perlindungan pada tanaman.

Menurut Lily di sinilah kunci utamanya, yaitu memilih tanaman yang tepat.

“Di lantai empat itu full matahari. Jadi saya pilih (tanaman) yang kuat,” jelasnya.

Beberapa tanaman yang ia andalkan, seperti daun bawang karena tahan panas dan cepat berkembang, lalu tanaman pohon buah (mangga, jambu, jeruk) karena lebih kuat dibanding sayuran daun, serta tanaman rimpang seperti serai dan daun salam.

Sementara lantai tiga digunakan untuk tanaman yang lebih sensitif, seperti selada, stroberi, hingga timun.

“Kalau sayur-sayuran tertentu, bisa pingsan di atas,” katanya sambil tertawa.

"Tampak sayuran sawi baru mulai bertumbuh (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"
 

Kebun yang Menghidupi Dapur

Kebun Emeng bukan sekadar hobi. Ia juga menjadi penopang usaha kuliner yang dijalankan Lily. Dari rooftop itu, ia dapat memetik daun salam, sereh, kemangi, bahkan selada. Semua digunakan langsung untuk kebutuhan dapur.

“Jadi nggak perlu beli. Bisa tekan biaya,” ujarnya.

Bahkan, pelanggan sering merasakan perbedaannya.

“Katanya fresh banget. Ya memang baru dipetik,” ucap Lily sambil menirukan ucapan pelanggan.

Dari Sampah Jadi Sumber Kehidupan

Hal lain yang membuat Kebun Emeng unik adalah sistem pupuknya. Hampir semua berasal dari limbah rumah tangga, mulai dari sisa sayur, kulit buah, air cucian beras, dan juga limbah dapur tetangga.

Semua diolah kembali menjadi pupuk organik.

“Sampah dapur saya hampir nggak ada,” kata Lily.

Ia bahkan tak segan meminta sisa bahan dari pedagang pasar.

“Saya nggak malu. Buat tanaman kok.”

Dari proses itu, ia mendapatkan dua hal sekaligus yakni mengurangi limbah, serta menghemat biaya pupuk.

Ketika Hobi Mulai Menghasilkan

Awalnya, Lily tak pernah berpikir menjual hasil kebunnya. Hingga suatu hari, seorang teman tertarik membeli pohon jambu hasil cangkokannya. Dari situ, semuanya berubah.

“Ternyata bisa jadi uang,” katanya.

Kini ia menjual tanaman dalam polybag, sayuran segar, dan juga bibit hasil cangkok.

"Melalui media sosial dan marketplace. Harga? Mulai dari Rp15 ribu, tergantung ukuran," sambungnya.

Namun bagi Lily, nilai utamanya bukan di uang.

“Ada rasa puas kalau orang bilang bagus,” ujarnya.

"Lily saat mengecek tanamannya yang ada di rooftop lantai empat. (Foto: Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)"
 

Lebih dari Sekadar Kebun

Di balik semua itu, Kebun Emeng punya fungsi lain yang lebih personal.

Tempat pulang.
Tempat tenang.

“Ini tempat healing buat saya,” kata Lily.

Pagi setelah subuh, dan pada sore hari selepas ashar, ia menghabiskan waktu di antara tanaman-tanamannya.

Berbicara pada pohon, merawat, dan menunggunya tumbuh.

Bertani di Ketinggian, Tentang Cara Pandang

Kisah Kebun Emeng membuktikan satu hal, bertani tidak selalu tentang lahan luas atau di dataran tinggi yang subur. Ia bisa hadir di ruang sempit, di tengah kota, bahkan di atas rumah. Asalkan ada kemauan, kreativitas, dan ketekunan.

Dari seekor kucing bernama Emeng, dari sampah dapur yang dianggap tak berguna, hingga rooftop yang disulap jadi kebun, semuanya menunjukkan bahwa bertani hari ini bukan lagi soal lokasi. Melainkan soal cara pandang.

Related News