Pengembangan Ayam Lokal, Bisa Kurangi Ayam Impor
Jagad Tani - Pengembangan Grand Parent Stock (GPS) ayam lokal berbasis keunggulan genetik tropis, menjadi upaya dalam mengurangi ketergantungan industri perunggasan Indonesia terhadap impor bibit ayam ras komersial.
Sumber daya genetik ayam lokal di Indonesia, dinilai beragam dengan kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan tropis. Selain lebih tahan terhadap kondisi lingkungan tertentu, ayam lokal juga memiliki karakteristik produk yang diminati masyarakat.
Baca juga: Bantuan Petani Terdampak Banjir Capai Rp10 Milyar
Menurut Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yudhistira Nugraha, tantangan utama pengembangan industri perunggasan nasional saat ini, yaitu ketergantungan terhadap impor ayam ras komersial.
Pasalnya, saat ini poduksi GPS dunia masih didominasi dari negara-negara maju yang telah melakukan riset dan investasi besar selama ratusan tahun.
“Namun demikian, kita berharap tidak terus bergantung pada GPS impor. Pasalnya, Indonesia memiliki sumber daya genetik ayam lokal yang sangat beragam dan memiliki keunggulan komparatif, terutama kemampuan adaptasi terhadap lingkungan tropis dan cita rasa khas yang dimiliki,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip (15/05).
Lebih lanjut, pengembangan GPS ayam lokal dinilai menjadi langkah penting untuk mewujudkan kemandirian pangan, sebab ketergantungan pada impor bisa berisiko terhadap stabilitas produksi dalam negeri apabila terjadi gangguan geopolitik atau hambatan perdagangan internasional.
“Selain itu, pentingnya pengembangan GPS ayam lokal juga didorong tingginya kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia. Berdasarkan data Pola Pangan Harapan (PPH), pemenuhan protein hewani nasional sejauh ini banyak ditopang sektor perunggasan, baik daging maupun telur, serta sektor perikanan,” terang Yudhistira.
Ditambahkan jika kebutuhan protein hewani akan terus meningkat, seiring adanya program Makan Bergizi Gratis. Oleh karena itu, penguatan sistem produksi peternakan menjadi sangat penting, salah satunya melalui ketersediaan GPS sebagai fondasi industri perunggasan nasional.
Hal tersebut ditambah dengan adanya peningkatan produksi daging, susu, dan telur yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai bagian dari program prioritas nasional hingga 2029.
Demi mewujudkannya, kolaborasi lintas sektor dalam membangun industri GPS ayam lokal nasional dinilai penting. Sebab keberhasilan pengembangan industri tersebut memerlukan sinergi antara lembaga riset, industri, peternak, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan.
“Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN mendapat arahan untuk menyiapkan koleksi khusus hasil riset peternakan yang ditargetkan mulai tahun 2027. Produk unggulan seperti ayam pedaging maupun ayam petelur dengan produktivitas lebih tinggi,” paparnya.
Melalui riset dan inovasi, Yudhistira menilai bahwa langkah ini dapat mempercepat pengembangan bibit unggul nasional yang lebih adaptif, produktif, dan efisien sesuai dengan agroekosistem Indonesia terutama dalam mendukung kebutuhan nasional.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Santoso, menerangkan jika sektor perunggasan memiliki kontribusi besar dalam pemenuhan protein hewani masyarakat Indonesia.
Selain daging ayam dan telur, berbagai produk unggas lainnya dinilai alami peningkatan permintaan, seiring pertumbuhan penduduk, perubahan pola konsumsi, dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi berkualitas.
Ditambahkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ayam lokal, karena memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan tropis, lebih tahan terhadap kondisi lingkungan tertentu, serta memiliki karakteristik produk yang disukai masyarakat.
“Terdapat berbagai upaya untuk mewujudkan pengembangan ayam lokal yaitu melalui perbaikan pemuliaan, pendekatan rekayasa genetik, pengelolaan sistem pembibitan, penerapan teknologi reproduksi, hingga pengembangan budidaya modern yang lebih efisien,” terang Santoso.

