Perkuat Cadangan Pakan Ternak, Antisipasi Musim Kemarau
Jagad Tani - Memperkuat cadangan pakan ternak untuk menghadapi musim kemarau 2026 dan berbagai dinamika iklim yang berpotensi memengaruhi ketersediaan hijauan pakan, memang harus dipersiapkan.
Hal tersebut tentunya dilakukan untuk menjaga produktivitas ternak, menjamin pasokan protein hewani, serta menjadi upaya dalam memastikan jika usaha peternakan terus berjalan optimal sepanjang tahun.
Baca juga: Protes Harga Anjlok Peternak Blitar Bagikan Satu Juta Telur
Melalui informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejumlah wilayah Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan kondisi normal, hal ini tentu dapat memengaruhi ketersediaan hijauan pakan yang selama ini menjadi sumber utama pakan ternak.
Menurut Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Tri Melasari, langkah antisipatif terus dilakukan agar kebutuhan pakan ternak tetap terpenuhi, terutama di wilayah yang menghadapi tantangan ketersediaan pakan akibat perubahan cuaca dan iklim.
“Pemerintah berkomitmen memastikan kebutuhan pakan ternak tetap terpenuhi, terutama bagi peternak yang berada di daerah terdampak bencana,” ungkap Tri dalam keterangan persnya dikutip Rabu (03/02).
Adapun salah satu strategi yang terus diperkuat yakni melalui pengembangan Bank Pakan. Melalui sistem ini, peternak dapat menyimpan cadangan pakan dalam bentuk silase dan hay yang dapat dimanfaatkan saat produksi hijauan segar menurun.
Selain itu, pemanfaatan hasil samping pertanian sebagai sumber pakan alternatif, seperti jerami padi, tebon jagung, dan berbagai bahan pakan lokal lainnya, juga dilakukan untuk memperkuat ketersediaan pakan sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya pertanian.
Penguatan cadangan pakan juga dilakukan di berbagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen PKH. Menurut Kepala Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang, Gun Gun Gunara, peningkatan produksi silase dan perluasan areal hijauan makanan ternak dilakukan guna menjaga ketersediaan pakan sepanjang tahun.
“Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan stok pakan tetap aman selama musim kemarau dan menghadapi berbagai tantangan kondisi iklim,” tuturnya.
Hingga saat ini, produksi silase di BIB Lembang telah mencapai 107,40 ton dengan rata-rata produksi 21,48 ton per bulan. Adapun pengembangan lahan hijauan terus dilakukan lewat penanaman berbagai jenis tanaman pakan seperti jagung, rumput BH, dan Indigofera yang memiliki nilai nutrisi tinggi bagi ternak.
Sementara itu, Achmad Wahyudin, salah satu peternak sapi perah asal Garut, Jawa Barat, juga turut mengembangkan sistem Bank Pakan untuk menjaga ketersediaan pakan sepanjang tahun.
“Pembuatan Bank Pakan kami lakukan sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau sekaligus menjaga ketersediaan pakan ternak sepanjang tahun,” terang Achmad.
Menurutnya, selain dapat memperkuat ketahanan pakan, hal ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi petani sekitar melalui kemitraan penyediaan bahan baku silase dari tanaman jagung.

