• 5 June 2026

Dollar Menguat, Harga Kedelai Melonjak, Perajin Tempe Berteriak

uploads/news/2026/06/dollar-menguat-harga-kedelai-192620186415817.jpg

Jagad Tani - Di tengah gejolak kenaikan harga dollar AS terhadap rupiah yang sudah menembus angka Rp18.000, ditambah lagi adanya gejolak geopolitik di timur tengah, sehingga membuat sejumlah bahan baku pangan yang diimpor mengalami kenaikan harga, termasuk kedelai.

Aradea Rofik selaku perajin sekaligus pedagang tempe di Pasar Kecil Pela Mampang, Jakarta Selatan, menjelaskan bahwa selama lima bulan terakhir memang harga kedelai yang merupakan bahan baku tempe, terus menerus mengalami peningkatan.

Baca juga: Kurs Dolar Melonjak, Harga Pangan Bisa Terdampak

“Lima bulan yang lalu, itu (kedelai) masih Rp920.000 per kwintal. Berarti satu kilonya Rp9.200. Sekarang sudah mencapai Rp1.080.000 per kwintal. Bahkan ada yang menjual Rp1.100.000 per kwintal, tergantung merknya,” ungkap Aradea saat dihubungi oleh tim Jagad Tani via telpon, pada kamis sore (04/06).

Menurutnya, kenaikan dalam rentang waktu tersebut terjadi secara berkala, dan cukup berdampak terhadap pendapatan serta jumlah produksi. Adapun jumlah produksi harian yang dibuat di rumah produksinya sekitar 60 kg kedelai, dan saat ini hanya menggunakan sekitar 45 kg kedelai.

Artinya, terjadi penurunan sekitar 25% dari jumlah produksi harian yang biasa dilakukan. Bukan cuma itu, kenaikan harga bungkus plastik yang digunakan untuk membungkus tempe, juga turut naik, dari yang biasanya sekitar Rp18.000 per pack, saat ini sudah mencapai Rp22.000 per pack.

"Kayak begitu juga (dengan plastik) semuanya itu apa-apa naik, beli (plastik yang biasanya) itu Rp18.000 per pack. Pas ganti minggu itu sudah Rp22.000 per pack. Kan tempe juga berkaitan dengan plastik, kantong (bungkusan tempe)nya pakai plastik, orang belanja juga pakai plastik," ujar pria yang sudah berkecimpung di dunia tempe sejak tahun 1994 ini.

Hal ini membuat biaya produksi semakin naik, kondisi tersebut semakin diperparah oleh lesunya daya beli masyarakat di pasar, yang membuat para produsen tempe dan pedagang kian berteriak.

"Umpamanya kita bawa 200 bungkus yang lakunya cuma 50 bungkus, itu kan sudah terasa (berapa pemasukan yang kita dapat). Belum (lagi) harga barang ketika kita keluar mau belanja dengan uang penghasilan yang segitu kan juga (jadi) terbatas, (belum lagi harga barang) kan apa-apa naik semua," jelas pria asal Pekalongan ini.

Aradea menambahkan bahwa dalam kondisi ini pendapatan hariannya sampai turun hingga sekitar 20-30% dari hari biasanya. Untuk mengatasi hal tersebut, ia harus memutar otak agar bisa terus bertahan di tengah gejolak ekonomi yang sedang terjadi.

"Harga jual tempe (di tempat saya) masih tetap sama (meskipun bahan baku sedang naik), yakni di Rp6000 per bungkus. Buat menyiasati kondisi saat ini, yang bisa dilakukan paling hanya mengecilkan ukuran, supaya bisa tetap bertahan," terangnya.

Perlu diketahui, jika selama ini kedelai-kedelai yang digunakan dalam pembuatan tempe di Indonesia biasanya menggunakan kedelai impor, seperti kedelai Amerika, kedelai Kanada, kedelai Brazil, serta kedelai Argentina. Pemilihan ini bukan tanpa dasar, karena dari segi ukuran lebih merata dan lebih besar daripada kedelai lokal, sehingga bisa menghasilkan lebih banyak volume tempe, serta memiliki kulit yang mudah dikupas.

"Harapan ke depan kalau saya pribadi, yaitu saya berharap Indonesia itu bisa mandiri di bidang kedelai. Enggak tergantung (pada kedelai) Amerika. Wah itu kalau bisa (dilakukan), tentu harga kedelai bisa murah. (Karena) lahan banyak, tenaga yang menganggur (masih) banyak, cuma (kemandirian di bidang kedelai) saja yang belum ada," pungkasnya.

Related News