• 19 June 2026

Jateng Antisipasi Gejolak Harga Pangan Pascakenaikan BBM

uploads/news/2026/06/jateng-antisipasi-gejolak-harga-4920189a0a1676a.jpeg

Jagad Tani - Guna mengantisipasi dampak dari naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi terhadap harga pangan pada bahan pokok penting (bapokting) di Jawa Tengah, langkah antisipasi telah disiapkan.

Langkah antisipatif ini dinilai oleh Ahmad Luthfi, Gubernur Jawa Tengah, demi menjaga stabilitas harga pangan, dan keterjangkauan daya beli masyarakat di wilayahnya, akibat penetapan tarif baru BBM non-subsidi yang sudah diberlakukan sejak 10 Juni 2026 lalu.

Baca juga: Dorong Swasembada, 210 Hektare Lahan Indramayu Ditanam Kedelai

Adapun pihak Pertamina Patra Niaga, secara resmi menaikkan harga Pertamax (RON 92) kini menjadi Rp16.250 per liter, dari sebelumnya Rp12.300 per liter. Sementara, harga Pertamax Green 95 (RON 95) naik menjadi Rp17.000 per liter dari sebelumnya Rp12.900 per liter.

“Kita harus mencermati situasi dengan adanya kenaikan harga BBM. Kita harus menyiapkan terkait pergerakan kebutuhan pokok penting masyarakat,” ungkap Ahmad Luthfi sebagaimana tertulis dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu (13/06).

Menurutnya, komoditas pangan menjadi prioritas yang perlu diantisipasi.

Meski hingga saat ini kenaikan harga bapokting di Jateng dinilai belum terlihat, Pemprov Jateng bersama Bank Indonesia (BI), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan pihak terkait telah disiapkan untuk pantauan lapangan.

Selain itu, kestabilitan harga bahan pokok penting yang menjadi kebutuhan masyrakat sehari-hari ini dinilai jadi kunci dalam pengendalian inflasi harga di pasaran, terutama setelah terjadi kenaikan harga BBM non-subsidi.

“Kalau itu ada kenaikan harga bapokting, maka BUMD kita harus mengambil alih. Bagaimana bahan pokok penting, antara ketersediaan barang dan keterjangkauan harga bisa dinikmati masyarakat, sehingga inflasi bisa kita tekan,” tukasnya.

Related News