Pengembangan Silvo-aquaculture di Tambak Bermangrove untuk Udang
Jagad Tani - Pengembangan silvo-aquaculture berbasis mangrove lewat kegiatan percontohan (pilot activity) di Sulawesi Selatan, menunjukkan bahwa udang budidaya tambak bermangrove, memiliki pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan tambak konvensional.
Menurut Hiroshi Imae, Konsultan JIN Corporation Jepang, pada akhir masa pemeliharaan selama 98 hari di tambak tersebut, berat rata-rata udang di tambak bermangrove mencapai 25,85 gram, sedangkan pada tambak tanpa mangrove hanya mencapai 14,62 gram.
Baca juga: Nanobubble Water untuk Pertanian Hidroponik Tengah Dikembangkan
Hasil tersebut menunjukkan jika integrasi antara mangrove dan budidaya perikanan berpotensi memberikan manfaat ekologis sekaligus meningkatkan produktivitas tambak. Hal ini dinilai dapat menjadi solusi dalam memperkuat ketahanan pangan di wilayah pesisir.
Lebih lanjut dijelaskan, silvo-aquaculture merupakan pendekatan yang mengintegrasikan fungsi konservasi mangrove dengan budidaya perikanan. Di mana mangrove tidak hanya berperan menjaga kualitas lingkungan pesisir, tetapi juga mendukung produktivitas tambak.
“Mangrove berkontribusi meningkatkan populasi dan keanekaragaman makrobentos yang bermanfaat bagi pertumbuhan udang. Karena itu, pembudidaya dapat didorong untuk menanam mangrove di area tambak mereka,” ungkap Hiroshi, dalam keterangan tertulisnya pada laman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dikutip Minggu (28/06).
Walaupun hasilnya dinilai cukup menjanjikan, Hiroshi beranggapan jika silvo-aquaculture masih memerlukan penelitian lanjutan. Kerentanan udang windu terhadap penyakit menjadi salah satu tantangan dalam budidaya.
Adapun untuk komoditas lain seperti bandeng dan rumput laut Gracilaria juga perlu diteliti, supaya bisa memahami potensi manfaat mangrove terhadap produktivitas dari komoditas lainnya.
Ditambahkan pula jika pengelolaan air dalam sistem silvo-aquaculture masih memerlukan berbagai eksperimen, kebutuhan pengelolaan air juga bisa berbeda-beda, tergantung dari spesies mangrove yang digunakan. Sehingga, berbagai pendekatan masih harus dikembangkan.
“Pengelolaan air, jarak tanam, dan penjarangan mangrove masih perlu diteliti lebih lanjut agar mangrove dapat tumbuh dengan baik sekaligus menjalankan fungsinya secara optimal dalam sistem silvo-aquaculture,” tukasnya.

