• 29 June 2026

Gelombang Panas Serang Eropa, Ribuan Ternak Terdampak

uploads/news/2026/06/gelombang-panas-serang-eropa--703312932421745.jpeg

Jagad Tani - Imbas dari Gelombang Panas (Heatwave) yang tengah melanda sejumlah negara di kawasan Eropa, setidaknya telah menelan banyak korban, bukan hanya manusia, tetapi juga berdampak pada hewan ternak.

Berdasarkan laporan tertulis Reuters, di dua kawasan yang menjadi pusat produksi unggas di Perancis yakni wilayah Brittany dan Pays de la Loire, mengalami dampak yang luar biasa pada hewan ternaknya.

Baca juga: Pengembangan Silvo-aquaculture di Tambak Bermangrove untuk Udang

Clement Blanchard, peternak ayam di Pays de la Loire, wilayah penghasil unggas terbesar kedua di Prancis, melaporkan telah kehilangan sekitar 700 ekor ayam hanya dalam beberapa hari, jika kondisi normal ia tingkat kematian ternaknya hanya satu atau dua ekor per hari.

"Kami menghadapi hal yang sama dengan hewan-hewan kami seperti yang kami alami sendiri: mereka sangat menderita karena panas, dan karena itu pada saat-saat seperti ini angka kematiannya sangat tinggi," ungkapnya dikutip dari Reuters pada Senin (29/06).

Kawasan Brittany dan Pays de la Loire jika digabungkan, keduanya bisa menyumbang hampir 60% dari populasi unggas di Perancis. Adapun Perancis sendiri merupakan produsen unggas terbesar ketiga di Uni Eropa setelah Polandia dan Spanyol.

Jika biasanya hewan ternak yang mati dikumpulkan dan dikirim untuk diolah, namun kali ini dikarenakan volumenya yang terlalu besar untuk ditangani pihak kamar dagang Perancis, akhirnya, disarankan untuk menaburkan serbuk gergaji atau serutan kayu di atas bangkai untuk menyerap cairan, bahkan penguburan di lahan pertanian diizinkan setelah pemeriksaan teknis dan lingkungan.

Selain itu, kondisi ini berdampak pada peternak sapi, hal ini mengurangi asupan pakan, meningkatkan kebutuhan air, dan menurunkan produksi susu. Salah satunya dialami oleh Frederic Vincent, yang memelihara sekitar 70 sapi perah di dekat Angers di Prancis barat.

Kawanan sapi miliki Vincent bahkan berkumpul di bawah titik-titik ventilasi di kandang selama beberapa hari karena kipas angin beroperasi dengan kecepatan penuh di sana, menurunkan jumlah produksi susu sebesar 15% hingga 20%.

Sementara itu, Yann Nedelec, selaku kepala kelompok industri unggas Prancis ANVOL, memperkirakan setidaknya beberapa ratus ribu unggas telah mati di peternakan dalam ruangan maupun luar ruangan, dan menilai masih terlalu dini jika memperkirakan angkanya.

Di sejumlah negara eropa seperti Inggris, Perancis, Jerman, Spanyol, hingga Italia pada siang harinya bahkan menghadapi suhu ekstrem tertinggi berada di atas 40 derajat Celsius (104 derajat Fahreinheit).

Dalam laporan DW, lewat hasil dari rapid study (studi cepat) oleh World Weather Attribution (WWA) yang rilis pada Jumat (26/06) lalu, gelombang panas tahun ini hampir mustahil terjadi pada lima dekade lalu, bahkan sejak tahun 2015 sudah menganalisis tentang sejauh mana peristiwa ini bisa dikaitkan dengan perubahan iklim akibat pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas.

Melalui studi itu pula ditemukan jika 45% dari 850 kota yang berhasil dianalisis di 30 negara Eropa diperkirakan akan mencapai rekor tingkat stres panas (heat stress), bila memperhitungkan ukuran dari kombinasi suhu dan kelembapan.

Bahkan dalam laporan Badan Cuaca Inggris (Met Office), Gosport, Hampshire di Inggris bagian selatan, melaporkan jika cuaca ekstrem pada hari Rabu (24/06) tercatat 36,1 derajat Celcius, dan menjadikannya sebagai suhu terpanas bulan Juni sepanjang masa di Inggris.

Related News