Pendapat Ahli Soal Pupuk Cabai Pakai Paracetamol
Jagad Tani - Viralnya konten di media media sosial yang menyebutkan soal manfaat parasetamol sebagai penyubur tanaman cabai, membuat sejumlah ahli bersuara, salah satunya, Efi Toding Tondok, penanggung jawab Klinik Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB University.
Menurutnya, penggunaan obat manusia tersebut pada tanaman, sangat tidak disarankan, karena bisa berisiko memicu dampak buruk jangka panjang yang belum diketahui, mulai dari mematikan organisme tertentu hingga memicu resistensi patogen.
Baca juga: Pengembangan Silvo-aquaculture di Tambak Bermangrove untuk Udang
“Parasetamol dibuat khusus untuk kesehatan manusia dan belum ada penelitian maupun data sama sekali yang membuktikan bahwa kandungan parasetamol dibutuhkan oleh tumbuhan atau bisa menyuburkan tanaman khususnya cabai,” ungkap Efi dalam keterangan tertulisnya, dikutip Senin (29/06).
Lebih lanjut Efi menjelaskan jika Paracetamol ini biasanya diaplikasikan sangat terbatas dalam dosis rendah, yang sudah diukur agar aman untuk manusia, dan jika digunakan pada tumbuhan, selain harganya jauh lebih mahal, keefektifannya sama sekali belum teruji.
“Parasetamol itu kan dibuat untuk kesehatan manusia, jadi belum ada penelitian yang dilakukan terhadap tumbuhan. Jadi, tidak disarankan penggunaannya pada tanaman. Kalau dikatakan menyuburkan tanaman, menggunakan pupuk khusus tanaman akan lebih baik, bisa pakai pupuk kandang, itu akan lebih baik daripada parasetamol,” sambungnya.
Diterangkan pula bahwa, memang ada beberapa senyawa seperti asam salisilat pada obat yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk meningkatkan ketahanannya. Namun, formula obat yang diperuntukkan pada manusia jauh lebih murni dan mahal. Selain itu, penggunaan di area luas juga berbahaya.
“Tapi kalau mempergunakan untuk tumbuhan, apalagi dalam area yang luas, bisa menimbulkan dampak yang belum kita ketahui. Misalnya membuat organisme-organisme tertentu mati atau menyebabkan resistensi terhadap obat-obat yang malah menjadikan si mikroorganisme itu, yang mungkin adalah patogen manusia, resisten terhadap obat,” terangnya.
Sehingga, disarankan agar masyarakat tetap menggunakan pupuk untuk tumbuhan, karena sudah diteliti keamanannya bagi lingkungan, tumbuhan, serta konsumen. Sebagai alternatif murah, aman, dan mudah didapat, masyarakat disarankan memanfaatkan bahan rumah tangga biasa.
“Bila untuk tanaman dalam jumlah sedikit yang di halaman, tanaman-tanaman dalam pot misalnya bisa memupuk dengan bahan yang mudah yang biasa kita buang-buang seperti hasil cucian beras. Itu akan sangat baik untuk nutrisi tanaman. Jadi, jangan gunakan obat-obat untuk manusia digunakan pada tumbuhan karena risikonya akan lebih banyak, yang belum kita lihat saat ini,” tandasnya.

