• 30 June 2026

Lumbung Suara, Lumbung Pangan: Gigs Bertiket Beras

uploads/news/2026/06/lumbung-suara-lumbung-pangan--516307d9f2beeeb.jpg

Jagad Tani - Grup band Unacceptable Punk menghadirkan konsep berbeda dalam pertunjukkan musik yang bertajuk "Unacceptable: Decontrol Showcase" pada 19 Juni 2026 lalu, karena para penontonnya tidak perlu membeli tiket dengan uang. Sebagai syarat masuk, mereka cukup membawa beras.

“Untuk (beras yang dibawakan sebagai tiket, tidak ada) batasnya, kami tidak mematok batas berapa jumlah beras yang harus dibawa, seadanya saja,” ungkap Unacceptable kepada Jagad Tani, Senin siang (29/06).

Baca juga: Depot Sayur Sejahtera, dari Punk ke Pangan

Konsep bertiket beras ini menjadi cara bagi Unacceptable mengekspresikan diri, dan menunjukkan bahwa pertunjukan musik bisa lebih dari sekadar hiburan, tapi juga menjadi ruang bersolidaritas.

Sebab setiap orang yang hadir, turut berkontribusi sebelum musik dimainkan, sementara beras yang terkumpul akan dimanfaatkan untuk membangun lumbung pangan bersama dan didistribusikan melalui pasar barter di salah satu kampung kota yang ada di Bandung.

Menurut Unacceptable, gagasan ini lahir dari diskusi internal saat mempersiapkan acara perilisan album mini mereka. Salah satu personel yang tengah mempelajari tulisan-tulisan tentang Situationis International (SI), khususnya kritik mengenai society of the spectacle atau masyarakat tontonan, yang menjadi pemantik dari ide tersebut.

"Percakapan itu berkembang karena kami melihat skena punk dan musik bawah tanah semakin dekat dengan praktik-praktik komersial. Kami ingin menghadirkan bentuk kegiatan yang tidak hanya berhenti pada kritik, tetapi diwujudkan melalui praktik yang bisa dirasakan secara langsung," ujar Unacceptable.

Meskipun begitu, mereka menegaskan jika konsep tiket pertunjukan musik menggunakan beras ini bukanlah gagasan baru. Berbagai komunitas dan kegiatan solidaritas, juga telah menggunakan kebutuhan pokok sebagai media untuk berpartisipasi. Bagi mereka, hal ini merupakan upaya melanjutkan praktik-praktik solidaritas tersebut, sesuai dengan konteks yang dihadapi di masa kini.

“Perlu kami tegaskan bahwa konsep pertunjukan dengan tiket berupa beras bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru. Sebelumnya sudah ada berbagai kegiatan musik, komunitas, maupun acara solidaritas yang menggunakan kebutuhan pokok sebagai media partisipasi,” ungkapnya.

Pemilihan beras sebagai tiket masuk bukan tanpa alasan. Beras dinilai memiliki nilai guna yang nyata dalam kehidupan sehari-hari sekaligus merepresentasikan hasil kerja petani dan rantai produksi pangan. Melalui mekanisme ini, mereka ingin menawarkan alternatif terhadap sistem transaksi dalam industri hiburan yang selama ini bergantung pada uang.

"Poster Unacceptable: Decontrol Showcase." (Foto: Instagram/Unacceptable Punk)
 

"Kami ingin menggeser fokus dari nilai tukar menuju nilai guna, sekaligus mengajak orang untuk membayangkan kemungkinan bentuk pertukaran yang berbeda dari logika pasar yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya pilihan. Melalui langkah sederhana ini, kami berharap dapat menunjukkan bahwa ruang-ruang alternatif dapat dibangun melalui praktik kolektif yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat, bukan semata-mata dari mekanisme transaksi komersial,” sambungnya.

Semangat yang diusung inipun dinilai sejalan dengan materi yang diangkat di album mini pada Unacceptable: Decontrol Showcase ini. Secara umum, lagu-lagu Unacceptable Punk membahas berbagai bentuk kontrol terhadap kehidupan manusia, mulai dari eksploitasi buruh, kolonialisme, fasisme, hingga komodifikasi hubungan sosial dan cinta. Meski tidak secara khusus membahas ketahanan pangan, nilai solidaritas dan kemandirian komunitas hadir dalam lagu seperti Panjang Umur Ilegalis dan Nothing Is Impossible.

“Dalam Panjang Umur Ilegalis, kami mengangkat persoalan bagaimana hasil kerja para buruh sering kali tidak sebanding dengan apa yang mereka terima. Sementara Nothing Is Impossible berbicara tentang pentingnya membangun kesadaran kolektif, solidaritas, serta ruang-ruang,” tukas Unacceptable Punk.

Bagi mereka, konsep pertunjukan bertiket beras merupakan perpanjangan dari gagasan-gagasan yang tertuang dalam album tersebut. Selain itu, tiket beras ini menjadi simbol bahwasanya musik itu bisa berfungsi lebih dari sekadar tontonan, melainkan juga sebagai medium untuk memperkuat hubungan sosial dan praktik gotong royong di lingkungan masyarakat. 

Saat penyelenggaraan Unacceptable: Decontrol Showcase yang digelar di basement parkiran Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Tekstil Bandung ini, sederet nama turut menjadi barisan pengisi acara, seperti Barbed Wire, Bottled Violent, Arogan, Egofatum, Kataliz, dan Cherish.

Dari dentuman musik hardcore punk, dan moshpit, hentakan serta iramanya mampu menggema lebih dari sekadar hiburan. Sebab melalui beras yang dibawa setiap penonton, musik seketika menjelma menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas dan membangun ketahanan pangan yang berbasis komunitas. Gagasan-gagasan ini juga tertuang di dalam Zine edisi delapan.

Related News