Pengembangan Gelatin-Kolagen Halal dari Limbah Kulit Ikan
Jagad Tani - Jika selama ini kulit ikan sering kali dianggap sebagai limbah yang tidak memiliki nilai ekonomi. Namun di balik itu semua, ternyata kulit ikan memliki potensi besar di industri perikanan dan dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi.
Menurut Prof. Mala Nurilmala, yang merupakan auditor Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) yang juga Guru Besar IPB University, melalui riset yang telah dikembangkan, kulit ikan dapat diolah menjadi produk bernilai, sehingga tidak terbuang.
Baca juga: Sentra IKM Olahan Pisang Manggarai Timur Dikembangkan
“Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa kulit ikan bukan lagi dipandang sebagai limbah, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi berupa hydrolyzed collagen maupun gelatin halal. Sekaligus mendukung pengembangan industri berbasis bioekonomi sirkular,” ungkapnya, dikutip Selasa (6/7).
Lebih lanjut, wanita yang juga Ketua Asosiasi Co-product Akuatik Indonesia (InCoPro) ini menyebutkan jika Indonesia memiliki sumber daya perikanan yang sangat melimpah. Namun, produk seperti kulit ikan masih belum dimanfaatkan secara optimal.
Melalui pengolahan ini, dinilai tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga membantu mengurangi limbah industri perikanan sehingga lebih ramah lingkungan.
Sementara itu, Prof. Khaswar Syamsu selaku Kepala Pusat Sains Halal IPB University menjelaskan bahwa kebutuhan kolagen dan gelatin di dunia terus meningkat setiap tahun. Bahkan, sebagian besar bahan baku kolagen dan gelatin masih berasal dari babi sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan konsumen muslim maupun industri halal global.
"Kolagen dan gelatin selama ini mayoritas berasal dari babi. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kita untuk mengembangkan teknologi proses yang tepat guna menghasilkan alternatif yang dijamin suci dan halal," tuturnya.
Oleh karena itu, pengembangan teknologi pengolahan kolagen dan gelatin halal berbahan baku kulit ikan, dinilai sangat strategis. Selain memanfaatkan sumber daya lokal, produk yang dihasilkan juga memiliki potensi pasar yang sangat besar.
“Kolagen dan gelatin memiliki pemanfaatan yang sangat luas, mulai dari industri pangan, kosmetik, hingga farmasi. Oleh karena itu diperlukan teknologi proses yang tepat agar menghasilkan produk berkualitas tinggi,” jelas Khaswar.
Senada dengan hal tersebut, Prof. Nancy Dewi Yuliana dan Prof. Aris Purwanto yang juga dari IPB University menekankan bahwa inovasi pengolahan ini membuka peluang diversifikasi produk hasil perikanan yang mampu meningkatkan nilai ekonomi dibandingkan hanya menjual bahan mentah.
Melalui Workshop Kolagen Gelatin Halal dari Kulit Ikan yang digelar di Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Tegal, pada 1 Juni 2026 lalu, para peserta dikenalkan seluruh tahapan produksi, mulai dari penyiapan bahan baku kulit ikan, proses pengolahan, hingga memahami karakteristik hydrolyzed collagen dan gelatin yang dihasilkan.
“Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi yang dapat diimplementasikan oleh masyarakat dan dunia usaha sehingga hasil-hasil riset tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penguatan daya saing sektor perikanan nasional,” tukas Prof Mala.

