Memulai Bisnis Pakai Hati Tidak Pakai Akal
Jagad Tani - Dalam memulai bisnis, biasanya ada banyak hal yang harus dipertimbangkan oleh seseorang saat memulai usaha. Namun hal demikian tidak berlaku bagi Ahmad Jufri, selaku owner dari peternakan Bersama Berkah Sejahtera (BBS Farm).
Menurutnya, sebagai orang yang tidak mempunyai aset, dan biaya untuk sekolah pun harus disertai dengan bekerja. Memulai segala sesuatu dengan menggunakan keyakinan dari hati merupakan sebuah modal utama.
Baca juga: Halal Expo Indonesia Bangun Integrasi Ekonomi Islam
"Bisnis (saya itu dimulai) pakai hati, tidak pakai akal, karena ada banyak hal yang tidak masuk akal tapi (bisa) diterima oleh hati. Saya berbicara seperti ini, karena pengalaman pribadi," ungkapnya kepada Jagad Tani.
Memulai usaha sejak tahun 2005, dari yang awalnya hanya berjumlah 7 ekor, hingga akhirnya populasi sapi di kandang miliknya yang berjumlah menjadi 600 ekor, merupakan lompatan usaha yang cukup signifikan.
"Awal mula itu kita (mulai dari) 7 ekor, kemudian bertambah 20 ekor, (nambah lagi jadi) 40 ekor. Terus bertambah hari ini populasi kita kapasitas (kandang) kita (mencapai) 800 ekor, (dengan) populasi 600 ekor," ucapnya.
Adapun sapi-sapi di kandang miliknya terdiri dari delapan jenis sapi, yang didatangkan dari berbagai daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Nusa Tenggara Timur, serta Bali.
"Di sini hampir semua ada mulai dari sapi lokal, sapi Bali, sapi Madura, sapi Jawa, sapi PO, sapi Pegon, serta sapi Limousin ada semua di sini. Hampir delapan jenis kita punya di sini,' sambungnya.
Selain itu Ahmad Jupri melanjutkan jika perlu diperhatikan pula soal perpuataran uang dari usaha ini, sehingga uang bisa terus berputar dan tidak tertahan (mendem).
"Kalau buat teman-teman pemula yang mau bermain di jagal (penjualannya), kalau belum punya persiapan mental, saya menyarankan jangan dulu di jagal. (Karena) itu uang mendem perputarannya (dan) agak lambat pembayarannya," terangnya.
Hal itu dinilai akan menjadi masalah bagi perputaran usaha, selain itu, perbedaan harga jualnya pun dinilai cukup jauh. Ahmad mencontohkan, jika satu ekor sapi dimasukkan ke jagal, maka rata-rata keuntungan per ekor Rp500 ribu sampai Rp600 ribu.
"Tapi kalau kita jual (sendiri ke pembeli akhir), ada keuntungan per ekor minimal Rp1 juta itu per ekor. Kalau kita jual untuk Iduladha," papar Ahmad di kandangnya yang berada di Bekasi.
Meski harus mempersiapkan modal pakan dan perawatan di awal, Ahmad menyebutkan setidaknya, hal itu bisa menghindari peternak mengalami penunggakan pembayaran, sehingga perputaran usaha bisa terus berjalan.
"Jadi kalau sampai ada uang-uang Mendem di luar, (itu) berpengaruh pada (perjalanan usaha) yang lain. (Di sini, anggaplah jika) tahun ini kita jual sapi (iduladha) sebanyak 800 ekor, kalau rata-rata per ekor kita untung antara 10-15 juta untung kalau 800 ekor terjual, berapa miliar keuntungannya," tuturnya.
Dari keuntungan inilah, tiap tahunnya disisihkan keuntungannya buat beli tanah, hingga beli aset, sehingga penjualan yang hanya dilakukan dalam 1 tahun cuma sekali dinilai cukup untuk menghidupi hingga satu tahun kedepan.
"Saya punya keyakinan sama Tuhan saya, enggak mungkin Tuhan menyelengsarakan umatnya. Bekerja dan bersyukur (maka) Allah (akan) kasih nikmatnya. Keyakinan itu yang membuat kami (jadi seperti) hari ini. Semakin ia bersyukur, semakin Allah tambah," tukasnya.

